Apalah Arti Sebuah Nama

SD mana yang tidak memperkenalkan siswanya dengan ungkapan “Apalah arti sebuah nama”? (Ini bukan pertanyaan retorik. Saya nanya beneran – red)

Belum lama saja saya tersadar ungkapan itu datang dari seorang William Shakespeare: “What’s in a name? That which we call rose by any other name would smell as sweet”. Yang kurang lebih diartikan: Apalah arti sebuah nama? Mau dikasih nama apa juga dia tetap wangi.

Betul?

Betul.

Di persimpangan kehidupan lain, entah kapan dan di mana.. saya dikenalkan juga dengan ungkapan yang tidak kalah dahsyat: “Nama adalah doa”.

I mean.. wtf bro. Gini nih kalo dunia kebanyakan pujangga. Mind blown berkali-kali kan capek ya.

Seringkali saya setuju dengan Shakespeare. Kurang lebih salah satunya karena percakapan dengan rekan saya ini:

Tenang. Identitas rekan saya aman. Budi memang bukan nama samaran. Tapi at least nama lengkapnya gak saya kasih tau ke kalian. (Oh wait..)

Kebayang ya jadi Budi; cuma karena namanya satu kata bisa diribetin tiap kali dia ke luar negeri. Memang sih tiap negara punya aturan masing-masing.. tapi apa mereka gak nonton Romeo & Juliet? Shakespeare, dude. Besok-besok akan saya sampaikan ide argumen ketika Budi di depan mbak-mbak berseragam rapi yang duduk di meja imigrasi lalu mempermasalahkan namanya. Lempar aja ungkapan: “Apa lah arti sebuah nama?”.

Not sure it would work though. Poor, Budi. Sabar ya, Bud 😦

Belakangan saya pun baru tau kalo Budi sekeluarga punya nama hanya satu kata.

Sabar ya, keluarga Budi. Akan ada masanya petugas imigrasi membaca Shakespeare.

====================================

Di kesempatan lain saya terngiang-ngiang apa kata bapak saya: “Nama adalah doa”.

Katanya, ada riset yang hasilnya: sebuah nama bisa mempengaruhi berbagai hal seperti kesuksesan hingga popularitasnya di masa depan. Singkatnya, penamaan ke anak mempengaruhi cara pandang orang lain terhadap anak tersebut. Baik terkait suku, ras, jenis nama daaaan sebagainya. Bla bla bla coba deh guglang gugling tentang ini; ternyata ada juga ya yang beneran meneliti hal ini.

Balik lagi.. Belakangan hestek #SobatKismin merajalela. To be fair, saya paham itu bercanda. Mana ada seorang sobat mau doakan sobatnya sendiri untuk menjadi miskin. Ya kecuali seperti saya yang netizen ini. Jangan percaya netizen. Kami melempar kata demi retweet.

Pengakuan: saya ‘rada’ terganggu bahasa “Sobat Kismin”. Tapi ya udah. Tapi ya triggered juga makanya ada blog ini. Tapi ya udah. (Please do note pada penekanan kata ‘rada’)

Jadi ceritanya saya mencoba menelaah juga tiap kali sekelibat baca “Sobat Kismin”; apa kira-kira intensinya. Karena dibalik perbuatan, selalu ada niat kan? Di situ lah yang saya coba tebak-tebak. Action vs Intention. Lalu saya padukan ke konteks. Kalo sekiranya penilaian akhir saya menebak gak ada maksud yang gimana-gimana: Ya udah lah.

Kadang dunia perlu “Ya udah lah” lebih banyak sebagai sikap. Saya paham.

====================================

Lalu apa inti tulisan ini?

Gak ada. Ngapain juga saya menentang Shakespeare. Tapi apa kata orangtua, kan perlu didengar juga ehhe.

====================================

Saya juga mau bilang sering dipanggil “WOY, NYET!” sama sahabat.

Saya nengok.

Advertisements

Ragam Tipuan di Istanbul

Untuk thread mengenai scam di Turkey – khususnya Istanbul, bisa search di twitter dengan menuliskan: @social_junkee turkey. Ada cerita saya dan mention pengalaman beberapa teman di twitter. Tulisan ini rangkuman dari twit yang dilengkapi beberapa cerita orang-orang.

Sebelum lebih jauh, saya mau pastikan dulu tulisan ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan dan tau apa yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi tertentu. Bukan malah menimbulkan ketakutan yang berlebihan sehingga yang baca malah jadi ilfil sama Turki.

Rasanya kita semua akan setuju kalo Istanbul itu kota yang sangat indah dan pantas untuk masuk ke bucket list traveling. Oknum jahat ada di semua belahan dunia, semoga tulisan ini bisa bantu mempertajam common sense untuk mengenalinya.

(kota para penyayang kucing)

Baiklah.. mari kita mulai list scam (tipu-tipu) yang mungkin terjadi:

TAXI

Seharusnya, taxi di Istanbul menggunakan argo meter. Kesulitannya, banyak dari supir taxi di Istanbul yang either speaks no english ataupun lebih parahnya, sama sekali no english. Berikut beberapa kemungkinan tipu-tipunya:

  • Menolak menggunakan argo/meter
    • Biasa terjadi di bandara dengan berbagai alasan, misalnya kemacetan, jalan pintas atau menunjukkan kesan bahwa standar taxi di sana ya seperti itu
    • Lakukan:
      1. Cek google map, jarak tempuh, lama waktu dan apakah macet atau tidak
      2. Minta supir menggunakan dan menyalakan argo meter-nya
      3. Kalau attitude-nya gak bagus, kita selalu bisa menolak dan cari taxi lain
  • Sulap uang
    • Supir menukar uang yang sudah kita berikan dengan pecahan yang lebih kecil. Misalnya dari 100 Lira menjadi 10 Lira. Biasanya kita akan di-distraksi. Contoh: tangannya menunjuk ke belakang kita – persis setelah kita kasih uang, otomatis kita nengok dong. Ketika kepala kita udah balik ke arah semula, uang udah ditukar dengan pecahan yang lebih kecil. Lalu kita dibilang salah kasih duit ke dia
    • Lakukan:
      1. Pastikan jumlah uang yang kita keluarkan
      2. Minta supir sebut besaran argo, lalu minta dia menyebut besaran uang yang sedang kita pegang, secara psikis akan mengurangi niat jahatnya
      3. Jangan biarkan dia mengalihkan perhatian kita ketika transaksi

BELANJA

Sebagai rule of thumb, untuk pakaian, harga di Turki sama atau gak akan lebih mahal dari Jakarta. Rata-rata orang Istanbul are a good salesmen. Sangat persuasif dan di titik tertentu seperti memaksa. Gak akan kenapa-kenapa juga kalo kita sadar itu dari awal.

  • Overpriced stuffs!
    • Barang dengan price tag Euro, diganti ke Lira.. dengan alasan kita adalah pelanggan spesial. Jadi, jaket 800 Euro ditawarin jadi 800 Lira, misalnya. Padahal harganya bisa jadi gak sampe 200 Lira.. tapi karena terkesan kita dispesialkan.. bisa kena deh
    • Lakukan:
      • Get the hell out and never come back
  • Karpet palsu
    • Suka ada orang sok kenal dan tetiba ramah banget ngajak ngobrol ketika kita lagi liat-liat barang. Dia akan bilang tau karpet lokal terbaik dengan harga miring. Apa yang sebetulnya dia lakukan adalah bawa kita ke toko karpet dengan kualitas jelek yang di-mark up harganya. Dia dapet komisi.
    • Lakukan:
      1. Hindari orang itu, tunjukkan gestur kita gak mau diganggu
      2. Kalo udah keburu dibawa ke toko tersebut, tetap tenang dan bilang aja gak ada yang pas untuk seleramu
      3. Mereka akan keukeuh. Jadilah lebih kokoh. Stay calm and tolak.
  • Tipuan mata uang
    • Segelas teh turkey yang seharusnya 5 Lira, jadi 5 Euro
    • Lakukan:
      1. Biasakan tanya harga sebelum beli untuk makanan yang gak ada harga di menu
      2. Istanbul terima Euro, tapi akan kasih kembalian dengan Lira. Kroscek di google untuk nilai mata tukar uang
  • Gak ada kembalian
    • Belanjamu 80 Lira, kamu kasih 100 Lira, lalu diajak ngobrol ngalur ngidul sampe kamu lupa kembalian 20 Lira-nya karena pujian ini itu untuk dirimu dan negaramu yang dilempar bertubi-tubi
    • Dia bilang gak ada kembalian, lalu nawarin barang yang lain
    • Lakukan:
      1. Fokus. Boleh diajak ngalor ngidul ngobrol, gak usah dengerin banget, cut the crap, minta kembalian. Done.
      2. Selalu siapkan uang pecahan kecil
  • Sulap uang
    • Ini sama modusnya seperti supir taxi di atas ya. Menukar uang yang sudah kita kasih dengan pecahan yang jauh lebih kecil ketika kita lengah
    • Lakukan:
      • Ya jangan lengah

HELLO, MY FRIEND

Salah satu ucapan yang akan sering kita dengar di pojokan manapun Istanbul adalah sapaan “Hello, my friend!”. Diikuti dengan gestur sok kenal, sok tertarik tentang darimana kita berasal, gak nutup kemungkinan your love life. Kemungkinan yang ada ketika kamu tanggapi adalah:

  • Diajak ke Club
    • Kamu diajak ke club yang katanya paling menarik tempat orang-orang lokal nongkrong; semacam peringkat 1 hidden gem versi on the spot. Disuguhi berbagai minuman yang bahkan kamu gak minta, once kamu sadar, bill-nya sudah berjuta-juta. Kalo kamu gak mau bayar, berarti dianggap melanggar hukum.. plus orang-orang berbadan gede sudah mengelilingimu.
    • Lakukan:
      1. Setelah di “Hello, my friend”-in, kamu bisa senyum lalu move on gak usah tanggepin
      2. Kalo keburu menanggapi dan kamu gak mau suuzon, tes aja, kalo dia (dan mungkin temannya) ngajak ke club ato kafe yang sangat spesifik dan gak mau alternatif lainnya, kemungkinan besar berniat jahat
  • Dibawa ke restoran ato toko ini itu
    • Tentunya yang dia harapkan adalah komisi
    • Lakukan:
      • Sampe sini sudah sangat paham ya kenapa sampe ada peribahasa “Don’t talk with strangers”
  • Mau dianterin gak?
    • Ini percobaan scam yang haiyah banget. Bisa jadi kejadiannya di airport ato manapun ketika kamu geret-geret koper. Oknum akan ajak ngobrol berbaik hati seakan nawarin nebeng mobilnya dengan alasan tujuannya searah. Dia akan sangat persuasif dan mungkin mengaku bukan orang lokal ato orang lokal yang kerja di Budhapest ato mana lah. Diteruskan dengan cerita adeknya akan jemput dia dan kebetulan searah dengan tujuanmu.
    • Goalnya tentunya semua hartamu dan apapun yang ada di kopermu. Satu mention yang masuk di thread twitter saya, temannya unfortunately mengiyakan tawaran lalu berakhir dengan dilucuti hartanya di sebuah apartemen.
    • Lakukan:
      • Jangan terlalu terbuka dengan orang asing. Betul kita harus ramah, tapi jaga lah hal-hal spesifik seperti tujuan detail, pekerjaan detail, dsb dsb yang tidak perlu
  • Minuman atau makanan isi obat tidur
    • Kita ditawari makanan ato minuman yang ternyata.. bikin pingsan. Tentunya lalu segala kita punya apa dilucuti
    • Lakukan:
      • Jangan pernah terima makanan dan minuman dari orang asing. Titik.

OK selain hal-hal di atas, saya ada baca dan dengar cerita mengenai pencopetan, makanan dan minuman yang gak kita pesan tapi di-charge, mesin EDC kartu kredit yang katanya rusak dan akhirnya swipe ulang – ternyata di-charge dobel dan lain sebagainya.

Sebagai rule of thumb: betul sekali kebanyakan orang Turki senang bercanda, bikin kita tertawa, sesekali kasih pujian terhadap apa yang kita pakai dan gak lupa seakan excited ketika tau kita dari Indonesia. Beruntung ketika kita ketemu yang sincere.. that’s the real deal. Tapi mari batasi secukupnya dengan tidak terlalu share informasi sensitif terhadap orang asing dan berinteraksi seperlunya.

Sebagai kesimpulan, apakah Istanbul aman?

Saya bilang mah sejauh tulisan ini dibuat – iya aman. Most likely tipuan di Turki bukan hal yang mengancam nyawa. Tapi sangat halus dan bikin bete walaupun cuma kehilangan 50 Lira misalnya. Ketika kita sudah melakukan riset tentang berbagai tipuan di Turki, lalu membatasi interaksi dengan orang asing, foto-foto di Blue Mosque akan sangat menyenangkan.

Kalo ada tambahan atau pertanyaan, silakan komen ya. Selamat merencanakan liburan!

insightful traveling

Tanggal 28 Desember 2017 kemarin saya diajak ketemuan dengan para pejalan di kantor IWasHere Networks di bilangan Kuningan. Dengerin para pejalan itu cerita ini itu bikin kaki makin gatel buat ke mana-mana. Bahkan ke Indomaret dekat rumah pun jadi adventurous *insert emoticon girang*

IMG_9326(ini undangannya. saking semangat, coba liat.. tanggalnya aja udah setahun ke depan)

Sedikit background cerita, saya baru ngeh kalo harus bikin slide presentasi siang harinya di hari H. Tergopoh-gopoh lah merumuskan ide yang untungnya memang sudah ada di kepala. Perlu sedikit trigger aja dari the fower of kefefet.

Insightful Traveling terpilih sebagai tema dari jalan-jalan 2018 saya. Apaan tuh? Exactly. Suka ngarang emang.

Jadi Insightful Traveling ini pada dasarnya adalah perubahan cara berpikir mengenai bagaimana saya menyikapi jalan-jalan di 2018. Kalau ditanya mau ke mana tahun 2018? terlalu banyak keinginan ke sana kemari. Terlalu banyak tempat yang ingin saya kunjungi. Akhirnya saya memutuskan tahun 2018 itu bukan cuma masalah “kemana” tapi juga “ngapain di sana”. Gampangnya.. foto-foto pemandangan, udah.. selfie begini begono, kudu.. Apalagi dong? Nah.. insight traveling ini adalah challenge yang saya ajukan ke diri sendiri untuk meng-upgrade experience perjalanan. How?

Buat saya, dasar pemikiran dari Insight Traveling secara pribadi ada 3 hal:

  1. Experience over possesions
  2. Semua tempat itu unik
  3. Tidak perlu terlalu khawatir harus ke mana

Heu? Apaan? Ngarang lagi lu ya, Sya?

Gini..

Experience over possesions

Udah 2018. Saya pingin lebih kaya secara pengalaman. Gak perlu sok-sokan juga gak kepingin materi ini itu ya. Ini mah bahasan lain. Tapi artinya sesederhana, kalo duit di kantong untuk budget multi-purpose (di luar kebutuhan primer) cuma ada 3 juta, saya akan lebih pilih menghabiskannya untuk ke Banyuwangi dibandingkan beli sepatu baru. Gimana kalo punya 6 juta? Ya udah sih ke Banyuwangi pake sepatu baru. Beres.

Saya mau lapar dan kenyang akan pengalaman. Hal-hal baru. Cerita-cerita dan kenangan sebagai catatan saya pernah mengulik satu tempat. Pingin ngobrol santai dengan orang lokal, mau coba makan jangkrik di jogja, numpang tidur di rumah suku baduy, ato apapun yang sebelumnya gak kepikiran untuk dilakukan. Subjektif? Iya lah. Kan hal yang sudah ataupun ingin dilakukan, antara saya dan kamu bisa beda.

Semua tempat itu unik

Siapa di sini yang berani bilang Jakarta Barat sama Jakarta Selatan itu sama aja? Sama-sama Jakarta, gubernurnya sama, wakilnya sama, apanya yang beda? Pasti ada. Tarik lagi lebih spesifik, kelurahan Kelapa dua sama Kebon Jeruk aja pasti ada hal yang beda walaupun sama-sama di Kecamatan Kebon Jeruk. Taunya gimana? Jalan kaki, observasi, ngobrol dan mendengarkan.

Atas dasar pemikiran untuk lebih melek terhadap satu hal, saya kepingin 2018 ini insight yang saya dapatkan lebih tajam. Ketika kita melihat segala sesuatunya lebih detail, moga-moga rasa “ah ini mah basi – ah itu mah basi” bisa berkurang kalaupun ta’ bisa hilang.

Tidak perlu terlalu khawatir harus ke mana

Ada kalanya kita harus ke satu tempat berulang kali. Entah karena pekerjaan, mampunya ke situ aja ataupun emang saking sukanya sama tempat itu. Terus masa kita kudu mati gaya ketika ditanya orang “Eh gimana jalan-jalan lo ke Singapur?”, lantas kita jawab “Ya gitu-gitu aja sih. Tau sendiri kan lu Singapur. Bersih”. “Gimana Tokyo, bro?”.. “Ya gitu lah.. lagi dingin”. Titik.

Well, 2018.. saya pingin bisa kasih jawaban: “Gue kemarin ketemu expat dari Indo yang kerja di Tokyo udah 8 tahun. Dia cerita suka dukanya tinggal dan kerja di Tokyo.. $%$&^&^$%^%&^&^*&^*&*&*(*!!! … dan seterusnya”.

(Btw, obrolan sama expat ini belum sempat saya upload di Youtube.. tunggu yha)

Atau “Waahh gue akhirnya nyobain pisang yang kulitnya bisa dimakan di Tokyo”

Image-1

(nih berita tentang pisang mutant hasil bio reengineering orang-orang Jepang)

Jadi, 2018 gak perlu terlalu beban kudu ke mana. Kudu banget ke tempat baru. Kudu banget anti mainstream. Kalo emang harus ke Alfamart terus, just make sure kalo hari ini kita beli Chiki, besok beli Chitato. Kurang lebih begitu analoginya.

Terus kalo kenyataannya bisa ke tempat yang baru juga gimana?

Ya go for it lah, cuyyyy. Jangan dibikin terlalu ribet juga XD

=========================

OK balik lagi tentang gimana cara saya untuk jalanin konsep insight traveling?

  1. Walk on earth
  2. Observe
  3. Talk and Listen

Jangan terlalu harfiah amat jadi orang. Mentang-mentang dibilang Walk on Earth, lantas dari Jakarta ke Cirebon jalan kaki. Yang dimaksud adalah, saya akan lebih mencintai jalan kaki. Sadar gak sih banyak hal yang kemungkinan kita lewatkan ketika dari rumah ke Indomaret aja naik motor? Siapa tau ada iklan sedot WC metode baru di tiang listrik yang ternyata kita butuhkan, siapa tau ada mural baru di dinding deket kantor kelurahan yang bisa dipake buat bekgron selfie, siapa tau ada ibu-ibu lagi jemur pakaian yang demikian fotogenik. Jadi 2018 ini saya pingin lebih bersahabat dengan aspal. Halo kesandung polisi tidur, halo betis bengkak. Gpp. Worth it.

Image-1 (1)

(follow IG socialjunkee untuk dapet insight lebih dari kelurahan setempat)

Satu hal yang suka saya lakukan ketika jalan kaki adalah tengok kanan kiri (atas bawah depan belakang kadang-kadang). Satu tips penting adalah, lakukan senatural dan sewajar mungkin. Jangan kayak maling gitu loh maksudnya. Saya suka observasi hal-hal yang mungkin saya lewatkan ketika berkendara. Saya suka explore satu daerah yang notabene bukan area wisata for the sake of dapetin foto-foto lucu, nemu tempat buat selfie, ato pun coffee shop asik yang gak ada di radar trip advisor. Apapun tujuannya dan apapun yang didapatkan, gak masalah. Surprise me!

IMG_7826

(puas kalo dapet sesuatu yg instagrammable di tempat yang gak diduga)

Observasi ini gak melulu melalui pandangan mata tok. Kalo liat satu hal menarik, bisa kita manfaatin itu google untuk cari tau. Bisa juga tanya selebgram ato selebtwit, siapa tau instead of disuruh googling, malah dapet respon menarique. Dari observasi dasar, kita bisa cari tau lebih, coba liat sekeliling.. ada satpam gak gitu misalnya yang bisa diajak ngobrol ini itu. Nah di sinilah pentingnya you Talk and Listen. Mulai berani lah komunikasi ke orang asing. A simple hello with a smile would suffice to follow up the next interesting things. Beraniin diri aja. Sejelek-jeleknya respon orang palingan bilang “I don’t know” ato apa lah. Ingat juga untuk pake common sense, jangan orang yang keliatan lagi ribet sesuatu kita ganggu gugat. Tuhan nanti marah. Kalo udah berani mulai pembicaraan, penting rasanya untuk kasih pertanyaan yang tepat. Lalu dengarkan. Jangan malah kita curhat masalah keuangan kita 😦

Sekian sih bahasan kali ini.

Moga-moga manfaat yak buat yang baca. Jangan lupa di-like, komen dan subscribe. (Latihan jadi seleb Youtube). Good day!

Gimana sih cara foto candid tanpa ketauan, Kak?

Beberapa kali saya terima pertanyaan ini via twitter, instagram ataupun tatap muka.

Jawaban pastinya: “You can not be sure”.

Bisa ketahuan, bisa enggak. Terus kenapa? Lakuin aja.

Saya paham pertanyaan ini muncul karena kekhawatiran akan respon objek ketika mereka tau ada seseorang yang berniat curi-curi ambil fotonya. Jujurnya, saya pun masih merasakan getaran yang sama denganmu. But here’s the hammer: Kemungkinan paling buruk ketika kita ketahuan ng-endid (slang-nya candid LOL biarin ah) itu diminta hapus hasil fotonya. Dan ketika hal itu terjadi. Berbesar hati lah untuk menghapusnya.

PS. Risiko terbesar kedua itu ditimpuk pake sendal. Sebagaimana penulis merasakannya. (Terus kenapa? Tinggal kabur aja)

OK mari kita list risiko-risiko enak lainnya sepengalaman saya:

  1. Diplototin. Tenang. Kasih muka lempeng. Atau jangan liat matanya. Worst case-nya apa? Kasih senyuman aja. Kebanyakan orang malas konfrontasi. Berlaku pada kita dan dia.
  2. Matanya sejenak ke kamu. Seakan matanya penuh tanya: “Did you just take my photograph?”. Jawab kembali dengan.. senyuman. Biasanya kafilah berlalu.
  3. Objek gak nyadar. Ya lanjut.
  4. Dia malah senyum. Ini kudu wajib respon balik.. Senyum! Siapa tau itu jodohmu.
  5. Dia berhenti lalu tanya: “Kamu ambil foto saya?”. Poleslah dengan sedikit white lies, “Saya mau foto tiang listrik yang indah itu.. *sambil nunjuk* tiba-tiba kamu lewat. Tapi bagus deh fotonya.. nih”. And then you guys live happily ever after.
  6. Ato bisa juga mereka malah bergaya. SENYUM LAGI! dan bersuka citalah ambil beberapa foto mereka.

Nah kalo risiko-risikonya ini sudah bisa kita manage dengan baik, ndak ada alasan lagi untuk sebegitu khawatirnya. Semakin sering kita menghadapi dan melalui risiko-risiko tersebut, kekhawatiran itu akan semakin hilang. Kita gak akan punya banyak waktu untuk berpikir tentang ketakutannya karena sudah sibuk berpikir tentang angle, komposisi, timing dan sebagainya. It’ll be our second nature.

Anyways.. Perhatiin ndak hampir semua “risiko”-nya bisa teratasi dengan senyuman?

Well that because they say smile is the key that fits everybody’s heart.

Next-nya kita ngobrol trik-trik candid-nya yow.

Thanks and Happy ng-endid! 🙂

Bangun Jam 3 Pagi Itu.. Kesiangan

IMG_7407

“Ibu masak sendiri?”

“Iya.. paling ketupatnya aja yang beli di pasar”

“Jam 3 pagi kali ya Bu udah bangun?”

“Wah kalo bangun jam 3 pagi mah kesiangan. Mending gak jualan sekalian”

(Mata saya terbelalak sebelah – sebelahnya lagi lirik hape untuk ambil foto candid si ibu)

“Terus jam berapa, Bu?”

“Jam 1 harus udah bangun,” jawab Ibu sambil usir lalat.

Suka heran sama lalat. Gak sampah, gak bangkai, gak makanan.. semua dihajar. Plus.. Konon suka ganggu orang pacaran pula.

“Lah terus Ibu tidur jam berapa?

“Ya abis Isya Ibu udah tidur”

Ya ampun. Ternyata ada ya ibu-ibu yang gak nonton Ganteng-Ganteng Serigala. Ini saya saksikan dengan mata kepala sendiri.

“Jadi Ibu ke pasar dulu jam 1?”

“Enggak sih.. Bapak biasanya yang ke pasar ditemenin anak jam 1 pagi”

“Oo.. *manggut manggut*.. anak Ibu ada berapa?” saya kepo

“Ada 3. Alhamdulillah yang 1 baru lulus, 1 lagi kuliah, si bontot sekolah. Ibu udah 7 taun jualan ini. Dulu sempet bingung gimana biayain anak-anak.. Alhamdulillah semuanya bisa sekolah. Ada jalannya”

“Wah syukurlah..”

Yaa Tuhan itu kan kasih rejeki udah ada buat tiap orang, tapi kalo kita duduk dan diam di rumah aja ya gak turun juga” lanjut si Ibu – bijak, “Alhamdulillah nih kalo buat ongkos anak sekolah sih nutup aja”.

IMG_7408

Beberapa kali obrolan santai kami kudu di-pause dulu karena ada pembeli. Semuanya naik motor. Bungkus makanan, bayar, cabut. Tinggal saya dan Ibu berduaan lagi di pinggir jalan.

“Suka khawatir gak sih Bu ada orang jahat? namanya juga jualan di pinggir jalan,” saya pingin tau.

Mikir 3 detik, Ibu buka suara, “Oh pernah ada perempuan.. cakep.. dandanannya rapi.. Dia tiba-tiba duduk di tempat mas duduk sekarang.. dia minta kembalian. Katanya: Ibu kemarin belum kasih kembalian ke dia. Padahal Ibu inget banget kemarin gak ada yang bayar pake 100 ribuan, kalo 50 ribuan sih banyak”

“O dia minta kembaliannya? Ibu kasih?”

“Ya iya. Dia bilang dia belanja 20 ribu”

“Kenapa dikasih, Bu?”

“Ibu sih tanya, kenapa gak minta kembalian kemarin aja? Kenapa baru sekarang? Tapi ya Ibu kasih juga. Takutnya Ibu yang lupa.. Tar dosa lagi. Akhirnya Ibu kasih.. kalo ternyata dia yang bohong ya urusan dia sama Tuhan deh”

Saya manggut-manggut. Orang kadang suka terlampau kreatif di jalan yang salah ya pikir saya.

“Pernah juga ada Bank keliling”

“Apa Bu? Bank keliling? Rentenir maksudnya?”

“Iya.. 3 hari berturut-turut datengin Ibu. Nawarin pinjaman 1 juta tapi dikasihnya 900 ribu. Ya Ibu gak mau lah.. jualan begini doang sih buat apa pinjem ke Bank keliling 1 juta. Akhirnya Ibu bilang kalo 50 juta mau dah.. tar selama 3 taun Ibu bayar sebulannya 2 juta. E besoknya dia gak dateng lagi”

Saya lirik hape. Sudah jam setengah 8.

“Berapa Bu?”

“7000”

“Boleh utang, Bu?”

Si Ibu ketawa.

Saya bayar.

“Makasih ya, Bu. Saya jalan dulu”

Kemudian saya tidak lupa mengucap syukur dalam hati.