Shanghai Within Eyes

while we're young

(while we’re “young”)

stand out

(stand out)

the trail of USA

(the trail of USA)

let's hope it's her husband

(plot twist: it’s not her husband)

intense

(intense)

inspired

(inspired)

got caught

(I got caught)

current trend

(current trend)

city and silhouette

(city and silhouette)

capturing capturer

(capturing capturer)

busy

(busy)

Advertisements

Bangun Jam 3 Pagi Itu.. Kesiangan

IMG_7407

“Ibu masak sendiri?”

“Iya.. paling ketupatnya aja yang beli di pasar”

“Jam 3 pagi kali ya Bu udah bangun?”

“Wah kalo bangun jam 3 pagi mah kesiangan. Mending gak jualan sekalian”

(Mata saya terbelalak sebelah – sebelahnya lagi lirik hape untuk ambil foto candid si ibu)

“Terus jam berapa, Bu?”

“Jam 1 harus udah bangun,” jawab Ibu sambil usir lalat.

Suka heran sama lalat. Gak sampah, gak bangkai, gak makanan.. semua dihajar. Plus.. Konon suka ganggu orang pacaran pula.

“Lah terus Ibu tidur jam berapa?

“Ya abis Isya Ibu udah tidur”

Ya ampun. Ternyata ada ya ibu-ibu yang gak nonton Ganteng-Ganteng Serigala. Ini saya saksikan dengan mata kepala sendiri.

“Jadi Ibu ke pasar dulu jam 1?”

“Enggak sih.. Bapak biasanya yang ke pasar ditemenin anak jam 1 pagi”

“Oo.. *manggut manggut*.. anak Ibu ada berapa?” saya kepo

“Ada 3. Alhamdulillah yang 1 baru lulus, 1 lagi kuliah, si bontot sekolah. Ibu udah 7 taun jualan ini. Dulu sempet bingung gimana biayain anak-anak.. Alhamdulillah semuanya bisa sekolah. Ada jalannya”

“Wah syukurlah..”

Yaa Tuhan itu kan kasih rejeki udah ada buat tiap orang, tapi kalo kita duduk dan diam di rumah aja ya gak turun juga” lanjut si Ibu – bijak, “Alhamdulillah nih kalo buat ongkos anak sekolah sih nutup aja”.

IMG_7408

Beberapa kali obrolan santai kami kudu di-pause dulu karena ada pembeli. Semuanya naik motor. Bungkus makanan, bayar, cabut. Tinggal saya dan Ibu berduaan lagi di pinggir jalan.

“Suka khawatir gak sih Bu ada orang jahat? namanya juga jualan di pinggir jalan,” saya pingin tau.

Mikir 3 detik, Ibu buka suara, “Oh pernah ada perempuan.. cakep.. dandanannya rapi.. Dia tiba-tiba duduk di tempat mas duduk sekarang.. dia minta kembalian. Katanya: Ibu kemarin belum kasih kembalian ke dia. Padahal Ibu inget banget kemarin gak ada yang bayar pake 100 ribuan, kalo 50 ribuan sih banyak”

“O dia minta kembaliannya? Ibu kasih?”

“Ya iya. Dia bilang dia belanja 20 ribu”

“Kenapa dikasih, Bu?”

“Ibu sih tanya, kenapa gak minta kembalian kemarin aja? Kenapa baru sekarang? Tapi ya Ibu kasih juga. Takutnya Ibu yang lupa.. Tar dosa lagi. Akhirnya Ibu kasih.. kalo ternyata dia yang bohong ya urusan dia sama Tuhan deh”

Saya manggut-manggut. Orang kadang suka terlampau kreatif di jalan yang salah ya pikir saya.

“Pernah juga ada Bank keliling”

“Apa Bu? Bank keliling? Rentenir maksudnya?”

“Iya.. 3 hari berturut-turut datengin Ibu. Nawarin pinjaman 1 juta tapi dikasihnya 900 ribu. Ya Ibu gak mau lah.. jualan begini doang sih buat apa pinjem ke Bank keliling 1 juta. Akhirnya Ibu bilang kalo 50 juta mau dah.. tar selama 3 taun Ibu bayar sebulannya 2 juta. E besoknya dia gak dateng lagi”

Saya lirik hape. Sudah jam setengah 8.

“Berapa Bu?”

“7000”

“Boleh utang, Bu?”

Si Ibu ketawa.

Saya bayar.

“Makasih ya, Bu. Saya jalan dulu”

Kemudian saya tidak lupa mengucap syukur dalam hati.

Yuk.. Ketemuan di Money Brunch

“Hah? Bicara tentang finansial? Tapi saya ndak punya kapasitas di situ, Mbak. Saya awam”

“Justru itu, Mas.. positioning-nya memang sebagai orang awam”

“O ya kalo itu saya orang yang tepat” (ketawa miris dalam hati)

Kira-kira begitu awal obrolan saya di whatsapp dengan Mbak Dini dari Janus Financial.

Selang beberapa hari kemudian kami ketemuan untuk bicara lebih detail.

Singkatnya saya diminta untuk partisipasi dalam acara rutin CSR Janus Financial. Kali ini temanya seputar pasar modal. Interesting. I wanted to know more.

Saat itu saya dikelilingi teman-teman dari Janus Financial.. 3 lawan 1. Saya nyerah (dan menyerahkan diri) ketika saya lempar pertanyaan begini:

“Saya ingat jaman krisis moneter dulu, hal yang membuat Indonesia masih bertahan justru UKM-nya. Bisnis rakyat kecilnya. Jadi.. kenapa repot-repot ingin sosialisasi Pasar Modal, Mas?” tanya saya ke Mas Aakar – founder Janus Financial.

“Justru itu.. sekarang ini 60% dari investor untuk pasar modal di Indonesia adalah investor asing. Jadi ketika terjadi apa-apa, mereka memutuskan cabut.. pondasi kita goyah,” jawabnya cool.

Saya mengangguk. Logika saya kesentuh tepat di tengah.

Sederhananya.. program Corporate Social Responsibility yang dilakukan Janus Financial kali ini untuk sharing, ngobrol, diskusi banyak mengenai pasar modal di Indonesia dan bagaimana orang-orang awam (dan yang belum kaya raya) seperti saya ini bisa ikut kontribusi di dalamnya. Tidak penting apakah saya akan terjun ke pasar modal nantinya, target kali ini adalah memuaskan rasa ingin tahu. Setidaknya kalo sudah lebih paham, kita baru bisa memutuskan langkah selanjutnya kan ya?

Sedikit mengenai Janus Financial bisa dilihat di http://www.janusfinancial.co.id.

Kalo saya baca-baca dan dengar ceritanya.. Janus Financial ini adalah konsultan keuangan independen yang berdiri sejak Juli 2013 dengan fokus awal industri perencana keuangan. Menariknya, Janus Financial memiliki CSR program The Wake Up Call sebagai program edukasi dengan berbagai tema berbeda di setiap event-nya. Berbagai komunitas dilibatkan dalam acara yang dilakukan secara rutin ini. Mulai dari komunitas fashion, traveler, sampai hijabers. Topik yang dibicarakan pun selalu berbeda-beda tapi dengan benang merah yang sama: finansial.

So kali ini saya terlibat di program Money Brunch yang akan diadakan pada hari sabtu, 3 Oktober 2015.

Mengundang teman-teman sekalian untuk ngobrol santai mengenai apa sih itu pasar modal, apa sih pentingnya buat negara, apa sih manfaatnya buat kita, bagaimana sih cara kontribusinya.. Biar tambah seru, katanya akan ada lomba blogging, livetweet dan creative instagram shot juga. Hadiahnya ini yang agak nyeleneh: akun saham. I say it’s interesting.

Sampe ketemu di sana ya.. Untuk reservasi bisa liat di sini:

Iklan MB5Undangan MB5

Happiness Project – Pilot

IMG_7138

They say don’t judge a book by its cover but I totally did when I first saw its appearance and I’m glad that I was right. Bukunya ringan, do-able, PLUS not a psychological babble. Saya pikir saya sedang tidak butuh tambahan hal berat di dunia selain angkat galon aqua setiap minggunya.

So what’s Happiness Project all about?

Selintas saya baca, Gretchen Rubin – sang penulis had this weird anxiety. Jangan salah, katanya.. dia ndak depresi atau apapun yang kita pikir adalah lawan kata dari Happiness. Dia punya keluarga, pekerjaan, teman dan turunannya -you name it yang secara kasat mata baik-baik aja. Dia cuma merasa bisa lebih bahagia dari apa yang dia rasakan sekarang. Kalau sekarang 70, potensi untuk mendapatkan 80 itu ada. So she did her research about happiness and finally came up with her methodology. Steps.

Dia buat langkah per langkah selama setahun dari Januari sampai Desember.

Kenapa begitu? Ya terserah dia dong. Jangan rese deh. Ini bukan sidang tesis.

Lalu saya mau ngapain?

Gak. saya gak mau kupas tuntas translate-in the whole book enak aja lu beli aja sendiri dan baca.

I wanna walk her talks.

Well I totally relate with what she wrote. In my case, saya merasa something’s missing. I did what I’ve done but it’s not enough. I wanna do more, experience more, get more results. Serakah? Kurang bersyukur? Bisa jadi. Bisa jadi kamu salah maksudnya. I wanna have purpose. And yes.. I need simple guidelines (selain Al-Quran dan Al-Hadits serta Al-Kultwit). There I said it.

Saya belum selesai baca. Niatnya, selesai satu chapter – praktek. Satu chapter lagi – praktek lagi. Lalu share di-blog. As a reminder. Buat bahan blog juga. Ya sedih kali punya domain blog yang berbayar tiap taun – terus dicorat coretnya cuma setelah bayar doang. Dih.

BOOST ENERGY

So, saya udah bilang dia itu bikin langkah selama satu tahun. Langkah yang dia lakukan dalam satu bulan. Lalu bulan berikut = langkah baru + repetisi apa yang dia sudah lakukan sebelumnya. Akumulasi.

Di chapter January-nya, yang menandakan langkah awal.. dia kasih judul Boost Energy. Isinya tentang kesadaran jiwanya kalau kebahagiaan itu didapatkan dari fisik yang sehat. Dia mulai disiplin untuk olah tubuhnya. Gak cuma disiplin jalan kaki atau lari dan olahraga lain selama paling enggak 20 menit tiap harinya, dia juga butuh istirahat cukup. Tidur lebih awal, bangun lebih awal.

It all makes sense.

Simple aja lah gak usah di-analisis kejauhan.. gimana mau bahagia kalau kita sakit-sakitan. So, yes.. saya setuju dan angguk-angguk kepala.

OK gaya hidup saya ndak totally healthy. Saya bilang banyak “dosa-dosa” yang saya lakukan ke tubuh.. dan masih. Saya masih merokok, masih suka begadang, makan sembarangan.. but that’s not an excuse to not start doing the right things. Bahasa pembenarannya: Ya daripada enggak sama sekali. Saya jadi ingat pernah ada satu sahabat yang bilang: “Iya, gue masih ngelakuin banyak dosa dalam hidup.. kesannya orang akan bilang percuma lo solat tapi masih ini itu.. Lah itu kan orang yang bilang.. bukan Tuhan”. Saya mengamini. Iya. terlalu banyak orang “menuhankan” dirinya.

So I’ll let my body judge me afterwards.

Kebetulan sebelum baca buku ini saya juga udah mulai sadar pentingnya jaga tubuh. Motivasi saya waktu itu sih simple. Jalan kaki (ato lari), liat sekeliling, foto-foto. Iya, kan saya suka poto-poto tuh buat bahan instagram. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Sewaktu jalan pagi, I see details that I’ve never put attention before. Saya lihat bapak-bapak yang suka duduk menghadap tembok dan membelakangi jalan hampir tiap paginya, saya liat pemilik kost yang menulis iklannya dengan: “Terima Kosant” (entahlah.. mungkin anak kost-nya bangsa semut semua), saya juga mulai perhatikan poster cara mengenali batu akik dengan berbagai warna dan guratannya – percis seperti poster pahlawan nasional di SD saya dulu. Dan hal-hal lainnya yang kadang bikin geleng-geleng, manggut-manggut ataupun senyum aja. It’s refreshing.

IMG_5347

Dua malam belakangan ini saya sudah di tempat tidur dari jam 10.30 malam. Biasanya jam 12 ato jam 1 baru tidur. Sekarang saya mau coba rutinitas baru. Ya, jadi ingat. Kenapa saya mau coba walk her talk, salah satunya karena saya bosenan. Saya mau punya project aja yang impact-nya langsung ke hidup. Bosan dengan rutinitas tidur yang biasa, sekarang saya coba yang baru. Mungkin sesekali saya begadang.. so what. masa mau makan tempe melulu tiap hari. Kan ndak.

Oiya, Gretchen bilang kalo tidur itu sebaiknya seminim mungkin ada distraksi cahaya. Cahaya dari hape, cahaya dari jam weker digital, cahaya lampu standby tivi..

Salah satu hasil googling saya kenapa sebaiknya tidur itu dalam kondisi yang totally dark.. mmm.. saya copy paste aja ya:

“Exposure to light stimulates a nerve pathway from the eye to parts of the brain that control hormones, body temperature and other functions that play a role in making us feel sleepy or wide-awake.

Too much light, right before bedtime may prevent you from getting a good night’s sleep. In fact, one study recently found that exposure to unnatural light cycles may have real consequences for our health including increased risk for depression. Regulating exposure to light is an effective way to keep circadian rhythms in check”

sumber: https://sleepfoundation.org/sleep-news/lights-out-good-nights-sleep

Tuh baca deh tuh.. tidur dengan banyak exposure cahaya bisa bikin depresi.

Ya kecuali CAHAYA ILAHI.

[BERSAMBUNG..]

Manfaat Jalan Pagi

Jangan suuzon dengan berbaik sangka kalau saya akan memaparkan 25 nomor berbaris ke bawah mengenai manfaat jalan pagi dari sudut pandang kesehatan. Kamu salah. Saya hampir tidak pernah memaparkan hal berguna di blog ini.

Jalan pagi keliling Tangsel (singkatan keren Tangerang Selatan – red) area kali ini membuat saya untuk lebih deep dan thoughtful terhadap beberapa hal terdokumentasi di bawah ini:

Desain Interior (or eksterior)

IMG_5734

Selama ini kita pikir sofa hanya cocok berada di dalam rumah. Ternyata setelah menyaksikan desain futuristik di depan mata, saya memutuskan untuk tidak berubah pikiran.

Mungkin di suatu malam sang istri menginginkan ruang terbuka yang nyaman. Namun di era keterbukaan ini, ada beberapa hal yang sebaiknya kita jaga untuk tetap tertutup. Salah satunya peletakan sofa.

Entah bagaimana menurut kalian. Tapi filter instagram manapun tidak bisa menyelamatkan pemandangan ini.

Gaya Hidup

IMG_5737

Jalan pagi membuka mata saya terhadap ilmu baru, wawasan baru, cara pandang baru. Hal-hal yang tidak pernah saya perhatikan sebelumnya.. terlihat jelas di mata ini ketika saya luangkan waktu untuk berhenti dan memperhatikan sekeliling. Tuhan melalui manusia ciptaannya menyebarkan setitik pengetahuannya baik yang ingin kita ketahui ataupun tidak sama sekali.

Ini contoh salah satunya.

Tapi bagi kamu yang tertarik. Kamu bisa kontak saya kalau memang kurang tau malu.

Keamanan

IMG_5738

Kalo kamu pikir meningkatnya kurs dollar terhadap rupiah menyebabkan banyak jemuran yang hilang, kamu salah. Banyak orang dengan santainya memamerkan beha dan celana dalam Hings-nya di pinggir jalan dan aman-aman saja. Selidik punya selidik, di samping jemuran ada motor diparkir.. Maling pun lebih memilih motor dibandingkan kolor.

Karena itu.. jagalah motor anda di luar baik-baik dan simpan kolor anda di dalam dengan baik-baik juga.

When Life Hands You Lemon, You Need Water

Sudah pernah saya share sih di Twitter, but I’m gonna re-share it anyway..

Pertama kali menginjakkan kaki di Erpoa itu di Belanda.

Sekolah kurang lebih 16 jam penerbangan, saya putuskan untuk naik kereta menuju Centraal Station, Amsterdam.

Tujuan pratama saya tentunya cek in hotel. Yes, lelah dan.. mmm agak bau itu butuh  sebagai jawabnya.

Di kereta menuju centraal station saya melahit sosok familiar.

No.. Not that I knew him or anything, tapi sepertinya kulit cokokolat, mata agak belo, garis-garis wajahnya membaut saya yakin kalau dia bersaal dari.. Asia Tenggara.

The thing about seeing familiar faces in a so called unfamiliar place is somewhat comforting.

Tentunya tebakin saya betul.. tidak hanya dari Asia Tenggara, si bapak yang kira-kira berumur 400 tahunan ini bersaal dari Indonesia! So ngobrol lah kita.

Dari hasiil ngalor ngidul ketahuan kalau dia sudah tinggal lebih dari 5 abad  di Amsterdam. Bekerja sebagai chef di sebuah restroom di Belanda. Setahun selaki pulang ke Indonesia untuk mengunjungi keluarga. Dia sempat menawarkan apartmenen murah milik sahabatnya kali-kali saya butuh tempat tinggal selama di Amsterdam. Tentunya saya kolak dengan halus karena saya sudah booking hotel.

Speaking of hotel, akhirnya saya tanya apa dia tau galaksi hotel Ibis di Amsterdam.

Responnya cuma: “Oh itu dekat sekali, keluar dari station, tinggal jalan luruuuus aja lalu beloek kanan. Nanti coba tanya orang di sana”.

Oh okay lah. Good. Dekat berarti.

Singkat kata keluar dari Centraal Station, ternyata tidak semaduh yang saya bayangkan. Lurus lalu kanan itu tidak se-simple kedengarannya. Saya hela nafas sebrentar. Berdiri di tengah hiruk pikuk Amsterdam. Pejalan kaki yang tersega-gesa dengan jaket tebal dan uap yang keluar dari mulutnya serta beberapa orang yang berpeseda mengayuh sampannya  sedikit tergesa-gesa melalui saya.

Celingak celinguk sebentar tengok kanun kiri. Duh.. nyesal gak bawa air minum. Gak ada warung pula. Saya coba mengingat-ingat sambil melihat backpack, kali aja bawa airminum . Koper di bawah jelas sekali tidak ada kadar airnya. So.. telan ludah aja.

Nengok kiri selesai.

Nengok kanan.. Waaaah.. agak karung beras  sih.. tapi sepertinya saya melahaplogo familiar: IBIS.

Dalam hati saya ingat lagi clue si bapak: “Luruuuus – kanan”.

Oh lurusnya dikti banget.

OK.. menuju Ibis!

[Ibis – Jilid 1]

Dengan memaksakan senyum on top of muka kucel I greeted, “Good morning!”. Yes, masih jam 10 pagi kira-kira.

Setelah beras basi sekidit, normalnya check in.. identitas paspror dan kertas b ookingan hotel saya berikan.

Huwohh.. akhirnya bisa refresh diri dulu nih pikir saya senang.

Tapi alam semesta berhekendak lain.. (untuk selanjutnya dialog akan dalam bahasa Indonesia)

Si mbak repespionis: “Mas, kayaknya kamu salah hotel deh.. Ini tuh Hotel Ibis, kamu itu bookingnya Ibis Style”.

Saya: “Ha?”

Si mbak: “Gampangnya liat logonya deh, kalo Ibis itu ada nuansa merah, Ibis Style itu hijau”

Saya: (Muka derpesi) “Terus.. di mana itu, mbak?”

Si mbak: “Luruuuuus.. Kanan”

AHA! Ternyata lurusnya emang agak panjang!

[Ibis – Jilid 2]

Di depan pintu Hotel yang saya khilaf datangi, saya pikir: “OK. Google Map deh”.

Oh wow.. note 4 exatcly lurus kanan sih.. ada belak beloknya dikit ternyata. 10 minutes walk. Baiklah.

Haus sih haus aja.. mau udara sedingin apapun kalo badan teriak butuh cairan ya kudu di-fulfil.

Sayangnya ya itu tadi.. gak ada warung. Adanya sungai. Bagus deh sanguinya.. bersih.. sempet kepikir sih mungkin kalau haus, halal hukumnya untuk munim air sungai. Cuma kudu terjun aja dari jembatan.

Oh anywaaaay..

Akhirnya sampe.. Ini kayaknya bener deh. Logonya nuansa hijau army.

Tanpa ba bi bu banyak..

Saya: “Morniiing.. (sambil serahin paspor dan kertas bookingan)

Si mbak: “Morning”

Saya: “Ya ampun mbak, saya tuh syalah hotel loh tadi. Abis namanya sama-sama Ibis sih. Akhirnya saya jlalan kaki gerek-gerek koper deh lumayan juga bla bla bla bla..”

Udah curhat panjang lebar, si mbaknya cuma: “Mas, kayaknya sampeyan salah hoteal lagi deh”

I was like: WHAAAAT?

[Ibis – Jilid 3]

Oh dengan langkah gontai saya balik mejunu Centraal Station.

Bengong dulu sih sekidit.

Sesuai arahan si mbak, saya kudu balik menuju centraal station dan ambil tram nomor sekian sekian berrhenti di apa namanya saya lupa.

Sampai depan tram yang dimaskud (kayaknya ya).. ada sosok falimiar lagi.. (ah senangnya!).

Cuma kali ini kok perempuan bule, pake kaos polo biru muda.. bisa familiar gimana ya, dalam hati.

Si mbak itu turun dan mata kami pandang-pandangian.

And she was like: “O EM JI, MAAAAASSSS! I’m so happpy to see you! THANK GOD”

Saya bingung, sambil sempet liat di tanngannya dia pegang sesuatua.. kotak, hijau, ada lambang garuda Indosenianya.

O.. MY.. GOD.. MY PASSPORT!

Dia nyerahin paspor itu sambil sanitasiagar saya lebih hati-hati.

Saya bengong.

Bengong.

Bengong.

Bengong.

I.. Need.. To.. Drink. Anything.

Walhasil telang ludah.

OK setelah agak tenang.. saya naik tram mejunu lokasi yang dimaksud.

Kurang lebih 15 menit on tram, saya turun di halte apa gitu lupa namanya.

Dari jauh keliatian: IBIS STYLE.

Oh yes.. Finally.

Sampe lobi, saya seperti dejavu, ngoceh aja langsung ke mbak repespsionis tentang berkali-kali saya salah hotel dan hampir kelihangan paspor. Sambil ngoceh tentunya sambil kasih kertas bookingan dan paspro.

But you know what..

When life hands you lemon.. it definitely hands you lemon.. not lemonade, because from what I know.. si mbak resepsionais hotel ke-3 yang saya kunjungi ini lalu bilang:

“Mas, ini kamu salah hotel lagi loooh”

Saya sesak nafas deh rasanyaaaaaa.

Tapi rupanya dia belum selesai..

“O tenang, Mas.. kalio ini hotrel yang betulnya itu ada di samping kita.. jalan dikit kira-kira 10 meter ke kanan”

SUBHANALLAH.

[Ibis – Jilid 4]

Sampe depan hlotehl saya perhatiin..

Iya ya.. pahadal ada bacaannya kok. Ibis Style A, Ibis Style B.. Ibis Style C.. saya aja kurang fokus.

*Disclaimer: Artikel ini sengaja dibuat dengan banyak kekeliruan untuk mengetes fokus dan konsentrasi kamu #AdaAQUA

#AdaAQUA Logo

Jangan Percaya Sama TV

Sebut saja namanya Achmed.
Orang yang saya temui secara tidak sengaja ketika melihat-lihat iklan tur yang terpampang di kaca jendela sebuah kantor tour & travel di kawasan Sultanahmet, Istanbul.

==

“Yes, please.. come in”, dia bilang.
“That’s okay, I’m just looking around”, balas saya.
“There’s a boat that is gonna depart at 1 pm for Bosphorus Cruise”, dia keukeuh.

==

Hmmm.. menarik nih. Belum pernah sih. Pikir saya.

==

Pun akhirnya pitching dia berhasil.
Saya beli tiket untuk cruise-nya.
Di pikiran ini udah kebayang-bayang untuk macam-macam angle foto di selat Bosphorus.
Mungkin menarik.

==

“Makan siang sudah termasuk. Balik ke daratan jam 6 sore”, lanjutnya kemudian.
(PS. Pembicaraan selanjutnya akan banyak via Google Translate)

==

OK lah. Bungkus.

==

“Jam 12 siang akan dijemput ya”
“Baiklaaah. Saya keliling dulu kalo gitu”

==

Iya. Masih punya waktu 20 menit.

==

19 menit keliling radius 187 meter dari kantornya.
Lumayan dapet syal satu biji.
Menyisakan 1 menit jalan santai.
Saya sih tepat waktu orangnya.
Kalo bukan lagi di Indonesia ya.

==

Balik ke lokasi, jemputannya belum datang.
Ya sudah lah, ngobrol basa basi untuk nambah network.

==

“Mas, asli darimana”, tanyanya
“Indonesia, Mas”, saya respon segera.
“Ohhh.. Indonesia. Ya ya.. jauh sekali”, katanya.
“Iya, untung ada pesawat. Kau asli sini kan?”, jawab dan tanya saya serius.
“Saya dari Syria”, sambil nyengir
“OOOHH.. Really?”, saya menegaskan. Tiba-tiba bahasa Inggris.
“Yeap. Ngungsi dari negara sendiri”, masih nyengir penuh arti.

==

Oh menarik nih pikir saya.
As we know already, Syria is currently overwhelmed with conflicts.
Political, ISIS, massacre.. you name it.
Semua itu bikin banyak warga Syria mengungsi ke berbagai daerah.
Tentunya Turki jadi salah satu destinasi favorit sejak beberapa tahun lalu.

==

“So, did you leave your family back there?”, saya basa basi penasaran.
“Yeap, but they’re all safe”
“There are places that still be considered as safe in Syria”
“Everything runs *quite* normal”
“But I’m not sure until when”, jawabnya panjang.

==

Lalu saya berusaha menyelami lebih dalam:
“So what do u think causing all the problems in Syria?”
“Well everything you see in TV, those are lies”
“Really? How come?”
“Do u know Masonian?”
“What do u mean? Freemason?”
“No. Masonian”
“Mmmm not sure. What is it?”

==

Lalu dia berpikir sejenak. Kemudian dia googling.
Percayalah..
Saya pun sambil googling di hape saking penasaran.
Tapi yang keluar masa Rock Band dari Australi.
Ya masa konflik di Syria disebabkan oleh Rock band seeeeeh?

==

“This.. this is the symbol of Masonian”, dia bilang.
“OOOOOHHH.. ya bener atuh, Kang. Itu mah Freemason”, responku penuh keyakinan.

==

Lalu dia lanjut curhat:
“Iya. Ini nih mereka yang bikin skenario-nya”
“ISIS, mana ada Islam kayak gitu. Bunuh-bunuhin orang lalu masuk ke Youtube”
“Freemason ini kuat. Mereka gak peduli Islam, gak peduli Kristen. Mereka pinginnya manusia kiblatnya ke mereka juga”
“Ini semua skenario. Ditambah Syria itu kaya akan minyak. Indah pula. Turki sih kalah indah”
“Masuk lah Amerika ke Syria. Iran pun juga. Mereka memanfaatkan kondisi. Ujung-ujungnya juga duit”
“Kami lah jadi korbannya”
“ISIS.. (dia hela nafas).. jangan percaya sama apa yang kau liat di TV lah”

==

Saya penasaran:
“Lalu darimana kamu bisa tau tentang Masonian?”

==

Dia jawab singkat dan penuh arti:
“From Internet”.

==

SEKIAN.