When Life Hands You Lemon, You Need Water

Sudah pernah saya share sih di Twitter, but I’m gonna re-share it anyway..

Pertama kali menginjakkan kaki di Erpoa itu di Belanda.

Sekolah kurang lebih 16 jam penerbangan, saya putuskan untuk naik kereta menuju Centraal Station, Amsterdam.

Tujuan pratama saya tentunya cek in hotel. Yes, lelah dan.. mmm agak bau itu butuh  sebagai jawabnya.

Di kereta menuju centraal station saya melahit sosok familiar.

No.. Not that I knew him or anything, tapi sepertinya kulit cokokolat, mata agak belo, garis-garis wajahnya membaut saya yakin kalau dia bersaal dari.. Asia Tenggara.

The thing about seeing familiar faces in a so called unfamiliar place is somewhat comforting.

Tentunya tebakin saya betul.. tidak hanya dari Asia Tenggara, si bapak yang kira-kira berumur 400 tahunan ini bersaal dari Indonesia! So ngobrol lah kita.

Dari hasiil ngalor ngidul ketahuan kalau dia sudah tinggal lebih dari 5 abad  di Amsterdam. Bekerja sebagai chef di sebuah restroom di Belanda. Setahun selaki pulang ke Indonesia untuk mengunjungi keluarga. Dia sempat menawarkan apartmenen murah milik sahabatnya kali-kali saya butuh tempat tinggal selama di Amsterdam. Tentunya saya kolak dengan halus karena saya sudah booking hotel.

Speaking of hotel, akhirnya saya tanya apa dia tau galaksi hotel Ibis di Amsterdam.

Responnya cuma: “Oh itu dekat sekali, keluar dari station, tinggal jalan luruuuus aja lalu beloek kanan. Nanti coba tanya orang di sana”.

Oh okay lah. Good. Dekat berarti.

Singkat kata keluar dari Centraal Station, ternyata tidak semaduh yang saya bayangkan. Lurus lalu kanan itu tidak se-simple kedengarannya. Saya hela nafas sebrentar. Berdiri di tengah hiruk pikuk Amsterdam. Pejalan kaki yang tersega-gesa dengan jaket tebal dan uap yang keluar dari mulutnya serta beberapa orang yang berpeseda mengayuh sampannya  sedikit tergesa-gesa melalui saya.

Celingak celinguk sebentar tengok kanun kiri. Duh.. nyesal gak bawa air minum. Gak ada warung pula. Saya coba mengingat-ingat sambil melihat backpack, kali aja bawa airminum . Koper di bawah jelas sekali tidak ada kadar airnya. So.. telan ludah aja.

Nengok kiri selesai.

Nengok kanan.. Waaaah.. agak karung beras  sih.. tapi sepertinya saya melahaplogo familiar: IBIS.

Dalam hati saya ingat lagi clue si bapak: “Luruuuus – kanan”.

Oh lurusnya dikti banget.

OK.. menuju Ibis!

[Ibis – Jilid 1]

Dengan memaksakan senyum on top of muka kucel I greeted, “Good morning!”. Yes, masih jam 10 pagi kira-kira.

Setelah beras basi sekidit, normalnya check in.. identitas paspror dan kertas b ookingan hotel saya berikan.

Huwohh.. akhirnya bisa refresh diri dulu nih pikir saya senang.

Tapi alam semesta berhekendak lain.. (untuk selanjutnya dialog akan dalam bahasa Indonesia)

Si mbak repespionis: “Mas, kayaknya kamu salah hotel deh.. Ini tuh Hotel Ibis, kamu itu bookingnya Ibis Style”.

Saya: “Ha?”

Si mbak: “Gampangnya liat logonya deh, kalo Ibis itu ada nuansa merah, Ibis Style itu hijau”

Saya: (Muka derpesi) “Terus.. di mana itu, mbak?”

Si mbak: “Luruuuuus.. Kanan”

AHA! Ternyata lurusnya emang agak panjang!

[Ibis – Jilid 2]

Di depan pintu Hotel yang saya khilaf datangi, saya pikir: “OK. Google Map deh”.

Oh wow.. note 4 exatcly lurus kanan sih.. ada belak beloknya dikit ternyata. 10 minutes walk. Baiklah.

Haus sih haus aja.. mau udara sedingin apapun kalo badan teriak butuh cairan ya kudu di-fulfil.

Sayangnya ya itu tadi.. gak ada warung. Adanya sungai. Bagus deh sanguinya.. bersih.. sempet kepikir sih mungkin kalau haus, halal hukumnya untuk munim air sungai. Cuma kudu terjun aja dari jembatan.

Oh anywaaaay..

Akhirnya sampe.. Ini kayaknya bener deh. Logonya nuansa hijau army.

Tanpa ba bi bu banyak..

Saya: “Morniiing.. (sambil serahin paspor dan kertas bookingan)

Si mbak: “Morning”

Saya: “Ya ampun mbak, saya tuh syalah hotel loh tadi. Abis namanya sama-sama Ibis sih. Akhirnya saya jlalan kaki gerek-gerek koper deh lumayan juga bla bla bla bla..”

Udah curhat panjang lebar, si mbaknya cuma: “Mas, kayaknya sampeyan salah hoteal lagi deh”

I was like: WHAAAAT?

[Ibis – Jilid 3]

Oh dengan langkah gontai saya balik mejunu Centraal Station.

Bengong dulu sih sekidit.

Sesuai arahan si mbak, saya kudu balik menuju centraal station dan ambil tram nomor sekian sekian berrhenti di apa namanya saya lupa.

Sampai depan tram yang dimaskud (kayaknya ya).. ada sosok falimiar lagi.. (ah senangnya!).

Cuma kali ini kok perempuan bule, pake kaos polo biru muda.. bisa familiar gimana ya, dalam hati.

Si mbak itu turun dan mata kami pandang-pandangian.

And she was like: “O EM JI, MAAAAASSSS! I’m so happpy to see you! THANK GOD”

Saya bingung, sambil sempet liat di tanngannya dia pegang sesuatua.. kotak, hijau, ada lambang garuda Indosenianya.

O.. MY.. GOD.. MY PASSPORT!

Dia nyerahin paspor itu sambil sanitasiagar saya lebih hati-hati.

Saya bengong.

Bengong.

Bengong.

Bengong.

I.. Need.. To.. Drink. Anything.

Walhasil telang ludah.

OK setelah agak tenang.. saya naik tram mejunu lokasi yang dimaksud.

Kurang lebih 15 menit on tram, saya turun di halte apa gitu lupa namanya.

Dari jauh keliatian: IBIS STYLE.

Oh yes.. Finally.

Sampe lobi, saya seperti dejavu, ngoceh aja langsung ke mbak repespsionis tentang berkali-kali saya salah hotel dan hampir kelihangan paspor. Sambil ngoceh tentunya sambil kasih kertas bookingan dan paspro.

But you know what..

When life hands you lemon.. it definitely hands you lemon.. not lemonade, because from what I know.. si mbak resepsionais hotel ke-3 yang saya kunjungi ini lalu bilang:

“Mas, ini kamu salah hotel lagi loooh”

Saya sesak nafas deh rasanyaaaaaa.

Tapi rupanya dia belum selesai..

“O tenang, Mas.. kalio ini hotrel yang betulnya itu ada di samping kita.. jalan dikit kira-kira 10 meter ke kanan”

SUBHANALLAH.

[Ibis – Jilid 4]

Sampe depan hlotehl saya perhatiin..

Iya ya.. pahadal ada bacaannya kok. Ibis Style A, Ibis Style B.. Ibis Style C.. saya aja kurang fokus.

*Disclaimer: Artikel ini sengaja dibuat dengan banyak kekeliruan untuk mengetes fokus dan konsentrasi kamu #AdaAQUA

#AdaAQUA Logo

Advertisements

Jangan Percaya Sama TV

Sebut saja namanya Achmed.
Orang yang saya temui secara tidak sengaja ketika melihat-lihat iklan tur yang terpampang di kaca jendela sebuah kantor tour & travel di kawasan Sultanahmet, Istanbul.

==

“Yes, please.. come in”, dia bilang.
“That’s okay, I’m just looking around”, balas saya.
“There’s a boat that is gonna depart at 1 pm for Bosphorus Cruise”, dia keukeuh.

==

Hmmm.. menarik nih. Belum pernah sih. Pikir saya.

==

Pun akhirnya pitching dia berhasil.
Saya beli tiket untuk cruise-nya.
Di pikiran ini udah kebayang-bayang untuk macam-macam angle foto di selat Bosphorus.
Mungkin menarik.

==

“Makan siang sudah termasuk. Balik ke daratan jam 6 sore”, lanjutnya kemudian.
(PS. Pembicaraan selanjutnya akan banyak via Google Translate)

==

OK lah. Bungkus.

==

“Jam 12 siang akan dijemput ya”
“Baiklaaah. Saya keliling dulu kalo gitu”

==

Iya. Masih punya waktu 20 menit.

==

19 menit keliling radius 187 meter dari kantornya.
Lumayan dapet syal satu biji.
Menyisakan 1 menit jalan santai.
Saya sih tepat waktu orangnya.
Kalo bukan lagi di Indonesia ya.

==

Balik ke lokasi, jemputannya belum datang.
Ya sudah lah, ngobrol basa basi untuk nambah network.

==

“Mas, asli darimana”, tanyanya
“Indonesia, Mas”, saya respon segera.
“Ohhh.. Indonesia. Ya ya.. jauh sekali”, katanya.
“Iya, untung ada pesawat. Kau asli sini kan?”, jawab dan tanya saya serius.
“Saya dari Syria”, sambil nyengir
“OOOHH.. Really?”, saya menegaskan. Tiba-tiba bahasa Inggris.
“Yeap. Ngungsi dari negara sendiri”, masih nyengir penuh arti.

==

Oh menarik nih pikir saya.
As we know already, Syria is currently overwhelmed with conflicts.
Political, ISIS, massacre.. you name it.
Semua itu bikin banyak warga Syria mengungsi ke berbagai daerah.
Tentunya Turki jadi salah satu destinasi favorit sejak beberapa tahun lalu.

==

“So, did you leave your family back there?”, saya basa basi penasaran.
“Yeap, but they’re all safe”
“There are places that still be considered as safe in Syria”
“Everything runs *quite* normal”
“But I’m not sure until when”, jawabnya panjang.

==

Lalu saya berusaha menyelami lebih dalam:
“So what do u think causing all the problems in Syria?”
“Well everything you see in TV, those are lies”
“Really? How come?”
“Do u know Masonian?”
“What do u mean? Freemason?”
“No. Masonian”
“Mmmm not sure. What is it?”

==

Lalu dia berpikir sejenak. Kemudian dia googling.
Percayalah..
Saya pun sambil googling di hape saking penasaran.
Tapi yang keluar masa Rock Band dari Australi.
Ya masa konflik di Syria disebabkan oleh Rock band seeeeeh?

==

“This.. this is the symbol of Masonian”, dia bilang.
“OOOOOHHH.. ya bener atuh, Kang. Itu mah Freemason”, responku penuh keyakinan.

==

Lalu dia lanjut curhat:
“Iya. Ini nih mereka yang bikin skenario-nya”
“ISIS, mana ada Islam kayak gitu. Bunuh-bunuhin orang lalu masuk ke Youtube”
“Freemason ini kuat. Mereka gak peduli Islam, gak peduli Kristen. Mereka pinginnya manusia kiblatnya ke mereka juga”
“Ini semua skenario. Ditambah Syria itu kaya akan minyak. Indah pula. Turki sih kalah indah”
“Masuk lah Amerika ke Syria. Iran pun juga. Mereka memanfaatkan kondisi. Ujung-ujungnya juga duit”
“Kami lah jadi korbannya”
“ISIS.. (dia hela nafas).. jangan percaya sama apa yang kau liat di TV lah”

==

Saya penasaran:
“Lalu darimana kamu bisa tau tentang Masonian?”

==

Dia jawab singkat dan penuh arti:
“From Internet”.

==

SEKIAN.

Tuntutlah ilmu sampai ke Singapore

My brother and I had a little fun trip together to Singapore.
He’s never been on a plane before, let alone Singapore.
So it was quite “amusing” seeing him having a new experience in his life.

Kekhawatiran berlebih
Saking khawatirnya karena dia baru pertama kali, sampe saya berlebihan monitoring-nya sebelum hari keberangkatan.
Never thought I would say this to anyone on whatsapp:
“Gak usah bawa jaket. Singapore panas.. kayak Indonesia”
atau balas pertanyaan dia
“Enggak, gak usah bawa handuk.. kan di hotel udah ada”

..

Obrolan saat nunggu pesawat take off di runway
[Pilot mengumumkan akan take off sekitar 10 menit lagi karena antrian pesawat]
Me: “Tuh liat terminal baru dibangun salah satunya karena ini, udah gak nampung lagi bandaranya.. Makanya pesawat kebanyakan antrian. Bikin delay”
Him: (setengah bisik-bisik) “Gue kira ini pesawat gak jalan-jalan karena lagi dipanasin”
Me: (muka wondering – ini dia lagi becanda ato apa ya – masa dipanasin, mobil kali)
Mungkin karena dia nangkep muka bingung saya,
dia lanjut bilang: “Serius..”. Masih setengah berbisik.

YA ROSUL.. GAK SANGGUP DAH NAHAN KETAWA

..

Seru.
Selain menjelaskan hal teknikal mulai dari cara masuk bandara, kenapa perlu scanning, check in itu apa, proses imigrasi,
saya anggap perjalanan ke Sing ini studi banding biar dia bisa liat perbedaan culture. Dia bisa observasi mengenai kedisiplinan, kebersihan, habit dan nilai-nilai yang perlu ditiru dan yang enggak.

..

Rasanya cukup berhasil.
Kemarin pas pulang ke rumah ortu, kamar dia sedikit lebih bersih.

..

Ya.. Kadang..
Pembelajaran itu mahal harganya

..

PhotoGrid_1407637776102[1]

Capturing Without Prejudice

Saya suka foto-foto..
Saya pun senang jalan-jalan.. (well, who doesn’t?)

Dari 2 kesenangan tersebut lahirlah berbagai foto hasil dari “jalan-jalan”.

Satu ketika, saya tidak punya banyak waktu (dan uang) untuk jalan-jalan.
Lucunya, hobi foto-foto saya seakan berhenti juga..
Sekali-sekali posting instagram pun stok-stok foto lama, kamera mendadak berdebu, handphone cuma kepake untuk twitter-an.

So all of the sudden.. I wondered why?

So I had this theory, it might not be true.. but hey, if it might not be true, it might not be wrong as well:

Tanpa sadar, saya sempat punya pemikiran kalau foto yang bagus sangat tergantung pada tujuan, lokasi, di mana saya berada.. Dan itu bisa “banyak” didapatkan ketika sedang bepergian.

Pertanyaannya saat itu, ketika saya di “rumah” saja.. would I stop doing what I also love, which is capturing things around with my phone or camera?

DUH.. NOOOO.
I don’t wanna do that.
I don’t wannabe that.

Lalu saya ambil kamera yang sudah penuh debu, lalu mulai (kepingin) foto-foto apapun yang ada di rumah. I don’t care. I should do something.

But how?
I’m not really good at making moments of the stuffs that don’t breathe.
Or things that aren’t mountains or oceans..

So I sit for a while.. took a deep breath.. and started browsing Instagram.
For the sake of getting inspiration.

After minutes..
I started producing things.. It was not that good, but I was really proud of myself.

2014_0625_21190500_1[1]

I’ve learned something.
Which says that I have to learn a lot about photography without prejudice.
Even the small cup of coffee may delight my eyes.. let alone people’s eyes.. it’s for their own to decide.

I’ve learned that sometimes we should push a daily object to pull out the beauty inside by pushing the limitation of ourselves.

Hope you got my point.

Bicara tentang belajar photography without prejudice, ternyata bisa “memaksa” kita untuk lebih socially aware, lebih sensitif sama keadaan sekitar, lebih berusaha menggali.. there must be something more of a thing or even someone.

Bisa melatih observasi, menemukan hal-hal baik di antara yang buruk, mulai melihat hal-hal indah dari yang biasa-biasa saja.

It’s a good thing, kan?
Dan kabar baiknya.. gak cuma berlaku untuk fotografi, tapi juga kehidupan.

Btw.. after my first attempt of making moments of cups. Saya ketagihan, dan muncul lah beberapa percobaan angle secangkir kopi (or tea) pagi untuk kemudian dengan senangnya share to instagram:
PhotoGrid_1406713798592[1]

Lalu kemudian berhenti posting setelah ambil foto ini:
2014_0626_20152400_1_1[1]

Because, you know.. Eva Arnaz moment.

AZAB!!!

Semalam hujan turun lumayan lebat di Jakarta dan sekitarnya. Menjelang hari lebaran malah ada rumah, pasar ataupun jalan yang kebanjiran. Dan di kondisi seperti ini biasanya ada aja tuh yang for the sake of comments langsung dengan entengnya bilang: “Ini azab Tuhan!!”

E ya gusti.

Kalo kita ingat-ingat track record yang lalu-lalu, memang gampang aja kita temukan orang-orang yang “dengan bijak”-nya mengkaitkan segala peristiwa alam dengan kata azab. Gak usah jauh-jauh, kemungkinan orang yang dekat di sekitar kita pun dengan polosnya berpendapat demikian.

Mau lebih dekat lagi, di hape kita pun ada, tinggal googling aja:
Screenshot_2014-07-27-09-25-34_1[1]
Screenshot_2014-07-27-09-24-00_1[1]

Tuh.. ya kan?
Mau dari temen kantor, temen main, tetangga atau malah kadang-kadang ustadz ataupun petinggi agama seperti ulama yang enteng aja mengkaitkan bencana alam dengan azab Tuhan. Ughhh.. Let alone twitterians.

Tapi salah gak sih pendapat itu?
Considering dilihat dari track record-nya, Tuhan memang jelas-jelas menurunkan bencana alam sebagai bagian dari proses “cleansing”. Let’s say air bah jaman Nabi Nuh ataupun kisah Sodom & Gomorah.

Oh mengingat cerita-cerita itupun kita jadi agak kalut bukan ya?
“Jangan-jangan.. memang bener bencana alam itu bagian dari peringatan”
“Jangan-jangan.. memang Tuhan lagi sentil kita”
“Jangan-jangan..”
“Jangan-jangan..”

Sah gak dilema itu?
Saaaahhhh.

Untuk orang yang beragama, kemungkinan besar memang hal ini akan dilematis. Mau dibilang banjir Jakarta misalnya.. karena kesalahan manusia, ya gak salah. Mau bilang kita sedang diperingatin Tuhan.. juga kepikiran pastinya. Dan itu sah-sah aja..

Sebenernya yang kurang sah (dan tsaaah) itu adalah how we deliver our opinion about that particular circumstances.

Kadang kita dengan entengnya mengeluarkan pernyataan:
“Oh, hape lo kecopetan ya.. mungkin lu kurang amal”,
“Waaah, lu sakit typhus? Makanya jangan kerja mulu. Ibadah juga jangan ditinggalin”
atau
“Ya gimana enggak Jakarta kebanjiran, maksiat semua sih orangnya”.
And so on and so on..

Well that my friend, kind of judgmental and arrogant.
And maybe I was part of that. Saya menyesal.
Kita suka lupa di saat kita kesusahan, most likely kita butuh perhatian instead of celaan.. kita butuh doa instead of vonis azab.. kita butuh teman instead of preachers..

Hal yang sama berlaku dengan bencana yang sifatnya lebih massive saya rasa.

Mungkin gak salah kalau satu periode kita kurang amal, kurang ibadah, banyak melakukan salah.. Mungkin juga memang Tuhan sedang kasih peringatan.. But it would be so nice if people would leave that alone between us and God himself.

Saya jadi mau cerita satu hal.
Di saat Jakarta kebanjiran besar beberapa saat lalu..
Euphoria azab bertebaran di mana-mana.

Ada satu ustadz yang dengan bijaknya tidak mengeluarkan statement kalau banjir besar ini adalah azab dari Tuhan.. Usut punya usut, rumahnya kebanjiran juga.

Duh. Kirain.

Reframe a photo. Reframe your life.

Tadinya fotonya begini:
Athens
Untuk keperluan instagram jadi begini:
IMG_20140720_075727[1]

Awalnya begini:
Rome

Saya re-frame jadi gini:
IMG_20140719_141154[1]

Mmm.. what I’m about to tell you is we can always find something in an unorganized beauty of a picture that we’ve taken.
Saya pun baru sadar itu sih setelah keabisan foto-foto untuk di-upload ke instagram. Bikin otak dan mata lebih jeli lagi untuk reproduce something untuk dikonsumsi mata.

Saya bukan fotografer, jadi harus pake kata “kalo gak salah”.. well.. kalo gak salah kerjaan nge-crop itu namanya reframing.

Pertanyaannya.. sah gak sih nge-reframe gitu lalu di-upload?
Menurut saya sah-sah aja dengan alasan:
1. Itu foto.. kita yang punya
2. Ketika kita zoom in ato zoom out di kamera ato hape, itu juga framing
3. Apa yang kita crop kan memang bagian dari 1 ataupun banyak moment
4. Kondisi di mana kita mau berikan penekanan pada satu scene

Alasan no 4 sebenernya juga 1 tujuan ketika saya re-frame suatu foto. Pingin emphasize satu moment/scene dari hal-hal yang bisa menyebabkan distraksi.
Meaning begini, kalau kita liat foto no 1, mata seakan bingung harus fokus ke mana dulu.. ke polisi? ke taxi? ke mobil bak? Ataupun jeleknya mata malah fokus ke hal yang sebenernya kurang penting seperti motor-motor di sebelah kanan.

Sewaktu saya akan ambil foto no 1, taxi adalah objek yang seketika menarik perhatian. Tapi berhubung berada di bus yang sedang berjalan, saya putuskan untuk take the guts dan abadikan the whole moment untuk dipikirkan selanjutnya framing-nya: mana yang di-crop, mana yang dibuang.. gitulah kasarnya.

Sebagai orang yang senengnya snap shot, reframing ini penting banget rasanya. Kondisi yang mengharuskan “buru-buru biar gak keilangan moment” sebetulnya juga ngasah sense kita untuk framing secara cepat. Kalo bisa, gak perlu reframe lagi.. Kalo gagal, ya coba reframe aja kan yaaa.

ANYWAAAAAAAY..

Sempet kepikir juga kalo konsep reframe ini gak cuma berlaku spesifik untuk poto-potoan doang. Kalo mau dipikir lagi, gimana cara kita lihat satu kondisi atau permasalahan dalam hidup pun kayaknya bisa dipake nih.

But how?

Kalo saya sih liatnya kita banyak temuin unorganized things dalam hidup. Contoh kecil ketika kita mau putuskan untuk beli hape. Sedemikian banyak pilihan hape yang bagus-bagus dengan berbagai fitur, harga, bentuk dsb dsb..

Kalau kita terbiasa meng-kerucutkan (what the hell is mengkerucutkan – red) cara pandang.. kita tau harus fokus akan apa yang kita mau, berbagai pilihan yang gak penting akan tersisih dengan penuh keikhlasan. Oh kita gak butuh kamera depan yang canggih, oh gak butuh koneksi LTE, oh tetep butuh physical keyboard, o yang penting bisa sms dan nelpon..

VOILA.. Nokia Pisang.

Gitu ya.. ya.. ya..
Semoga manfaat.

PILOT

Saya sadar sekali, hal tersulit dalam melakukan sesuatu adalah memulainya.

Dalam keseharian, penundaan biasa kita lakukan sebagai “excuse” akan kemalasan.

Simple saja, bahkan dari awal alarm pagi berbunyi, snooze button seakan menyuarakan suara hati terdalam.. which is “5 menit lagi ah..”. Atau ada yang enggak? Well congratulation.. You’re weird.

Yang kadang kita lupa, waktu 5 menit itu bisa dimanfaatkan untuk.. umm well.. buang air kecil, beresin tempat tidur.. atau gak usah jauh-jauh: ngulet-ngulet lucu di atas kasur instead of tidur lagi yang sebenernya gak jauh beda juga impact-nya kalo cuma 5 menit.

Actually all of the above is my prelude of letting you all know that I’m about to start my blog. No more excuse..

Please don’t expect something so deep, bahasan berat, specific theme, ataupun.. kualitas :))
Random might be suitable to describe.