Obrolan Singkat

IMG_7799[1] IMG_7804[1] IMG_7826[1]

“Anak-anak anjingnya lucu amat ya, Bu. Tapi kasihan Ibunya kurus amat,” saya iseng komen.

“Yaaa kalo orang mah anak ada 7, pembantunya minimal 1. Tetep gemuk deh,” responnya santai.

LOL BIJAK

IMG_7818[1]

Advertisements

When Life Hands You Lemon, You Need Water

Sudah pernah saya share sih di Twitter, but I’m gonna re-share it anyway..

Pertama kali menginjakkan kaki di Erpoa itu di Belanda.

Sekolah kurang lebih 16 jam penerbangan, saya putuskan untuk naik kereta menuju Centraal Station, Amsterdam.

Tujuan pratama saya tentunya cek in hotel. Yes, lelah dan.. mmm agak bau itu butuh  sebagai jawabnya.

Di kereta menuju centraal station saya melahit sosok familiar.

No.. Not that I knew him or anything, tapi sepertinya kulit cokokolat, mata agak belo, garis-garis wajahnya membaut saya yakin kalau dia bersaal dari.. Asia Tenggara.

The thing about seeing familiar faces in a so called unfamiliar place is somewhat comforting.

Tentunya tebakin saya betul.. tidak hanya dari Asia Tenggara, si bapak yang kira-kira berumur 400 tahunan ini bersaal dari Indonesia! So ngobrol lah kita.

Dari hasiil ngalor ngidul ketahuan kalau dia sudah tinggal lebih dari 5 abad  di Amsterdam. Bekerja sebagai chef di sebuah restroom di Belanda. Setahun selaki pulang ke Indonesia untuk mengunjungi keluarga. Dia sempat menawarkan apartmenen murah milik sahabatnya kali-kali saya butuh tempat tinggal selama di Amsterdam. Tentunya saya kolak dengan halus karena saya sudah booking hotel.

Speaking of hotel, akhirnya saya tanya apa dia tau galaksi hotel Ibis di Amsterdam.

Responnya cuma: “Oh itu dekat sekali, keluar dari station, tinggal jalan luruuuus aja lalu beloek kanan. Nanti coba tanya orang di sana”.

Oh okay lah. Good. Dekat berarti.

Singkat kata keluar dari Centraal Station, ternyata tidak semaduh yang saya bayangkan. Lurus lalu kanan itu tidak se-simple kedengarannya. Saya hela nafas sebrentar. Berdiri di tengah hiruk pikuk Amsterdam. Pejalan kaki yang tersega-gesa dengan jaket tebal dan uap yang keluar dari mulutnya serta beberapa orang yang berpeseda mengayuh sampannya  sedikit tergesa-gesa melalui saya.

Celingak celinguk sebentar tengok kanun kiri. Duh.. nyesal gak bawa air minum. Gak ada warung pula. Saya coba mengingat-ingat sambil melihat backpack, kali aja bawa airminum . Koper di bawah jelas sekali tidak ada kadar airnya. So.. telan ludah aja.

Nengok kiri selesai.

Nengok kanan.. Waaaah.. agak karung beras  sih.. tapi sepertinya saya melahaplogo familiar: IBIS.

Dalam hati saya ingat lagi clue si bapak: “Luruuuus – kanan”.

Oh lurusnya dikti banget.

OK.. menuju Ibis!

[Ibis – Jilid 1]

Dengan memaksakan senyum on top of muka kucel I greeted, “Good morning!”. Yes, masih jam 10 pagi kira-kira.

Setelah beras basi sekidit, normalnya check in.. identitas paspror dan kertas b ookingan hotel saya berikan.

Huwohh.. akhirnya bisa refresh diri dulu nih pikir saya senang.

Tapi alam semesta berhekendak lain.. (untuk selanjutnya dialog akan dalam bahasa Indonesia)

Si mbak repespionis: “Mas, kayaknya kamu salah hotel deh.. Ini tuh Hotel Ibis, kamu itu bookingnya Ibis Style”.

Saya: “Ha?”

Si mbak: “Gampangnya liat logonya deh, kalo Ibis itu ada nuansa merah, Ibis Style itu hijau”

Saya: (Muka derpesi) “Terus.. di mana itu, mbak?”

Si mbak: “Luruuuuus.. Kanan”

AHA! Ternyata lurusnya emang agak panjang!

[Ibis – Jilid 2]

Di depan pintu Hotel yang saya khilaf datangi, saya pikir: “OK. Google Map deh”.

Oh wow.. note 4 exatcly lurus kanan sih.. ada belak beloknya dikit ternyata. 10 minutes walk. Baiklah.

Haus sih haus aja.. mau udara sedingin apapun kalo badan teriak butuh cairan ya kudu di-fulfil.

Sayangnya ya itu tadi.. gak ada warung. Adanya sungai. Bagus deh sanguinya.. bersih.. sempet kepikir sih mungkin kalau haus, halal hukumnya untuk munim air sungai. Cuma kudu terjun aja dari jembatan.

Oh anywaaaay..

Akhirnya sampe.. Ini kayaknya bener deh. Logonya nuansa hijau army.

Tanpa ba bi bu banyak..

Saya: “Morniiing.. (sambil serahin paspor dan kertas bookingan)

Si mbak: “Morning”

Saya: “Ya ampun mbak, saya tuh syalah hotel loh tadi. Abis namanya sama-sama Ibis sih. Akhirnya saya jlalan kaki gerek-gerek koper deh lumayan juga bla bla bla bla..”

Udah curhat panjang lebar, si mbaknya cuma: “Mas, kayaknya sampeyan salah hoteal lagi deh”

I was like: WHAAAAT?

[Ibis – Jilid 3]

Oh dengan langkah gontai saya balik mejunu Centraal Station.

Bengong dulu sih sekidit.

Sesuai arahan si mbak, saya kudu balik menuju centraal station dan ambil tram nomor sekian sekian berrhenti di apa namanya saya lupa.

Sampai depan tram yang dimaskud (kayaknya ya).. ada sosok falimiar lagi.. (ah senangnya!).

Cuma kali ini kok perempuan bule, pake kaos polo biru muda.. bisa familiar gimana ya, dalam hati.

Si mbak itu turun dan mata kami pandang-pandangian.

And she was like: “O EM JI, MAAAAASSSS! I’m so happpy to see you! THANK GOD”

Saya bingung, sambil sempet liat di tanngannya dia pegang sesuatua.. kotak, hijau, ada lambang garuda Indosenianya.

O.. MY.. GOD.. MY PASSPORT!

Dia nyerahin paspor itu sambil sanitasiagar saya lebih hati-hati.

Saya bengong.

Bengong.

Bengong.

Bengong.

I.. Need.. To.. Drink. Anything.

Walhasil telang ludah.

OK setelah agak tenang.. saya naik tram mejunu lokasi yang dimaksud.

Kurang lebih 15 menit on tram, saya turun di halte apa gitu lupa namanya.

Dari jauh keliatian: IBIS STYLE.

Oh yes.. Finally.

Sampe lobi, saya seperti dejavu, ngoceh aja langsung ke mbak repespsionis tentang berkali-kali saya salah hotel dan hampir kelihangan paspor. Sambil ngoceh tentunya sambil kasih kertas bookingan dan paspro.

But you know what..

When life hands you lemon.. it definitely hands you lemon.. not lemonade, because from what I know.. si mbak resepsionais hotel ke-3 yang saya kunjungi ini lalu bilang:

“Mas, ini kamu salah hotel lagi loooh”

Saya sesak nafas deh rasanyaaaaaa.

Tapi rupanya dia belum selesai..

“O tenang, Mas.. kalio ini hotrel yang betulnya itu ada di samping kita.. jalan dikit kira-kira 10 meter ke kanan”

SUBHANALLAH.

[Ibis – Jilid 4]

Sampe depan hlotehl saya perhatiin..

Iya ya.. pahadal ada bacaannya kok. Ibis Style A, Ibis Style B.. Ibis Style C.. saya aja kurang fokus.

*Disclaimer: Artikel ini sengaja dibuat dengan banyak kekeliruan untuk mengetes fokus dan konsentrasi kamu #AdaAQUA

#AdaAQUA Logo

Jangan Percaya Sama TV

Sebut saja namanya Achmed.
Orang yang saya temui secara tidak sengaja ketika melihat-lihat iklan tur yang terpampang di kaca jendela sebuah kantor tour & travel di kawasan Sultanahmet, Istanbul.

==

“Yes, please.. come in”, dia bilang.
“That’s okay, I’m just looking around”, balas saya.
“There’s a boat that is gonna depart at 1 pm for Bosphorus Cruise”, dia keukeuh.

==

Hmmm.. menarik nih. Belum pernah sih. Pikir saya.

==

Pun akhirnya pitching dia berhasil.
Saya beli tiket untuk cruise-nya.
Di pikiran ini udah kebayang-bayang untuk macam-macam angle foto di selat Bosphorus.
Mungkin menarik.

==

“Makan siang sudah termasuk. Balik ke daratan jam 6 sore”, lanjutnya kemudian.
(PS. Pembicaraan selanjutnya akan banyak via Google Translate)

==

OK lah. Bungkus.

==

“Jam 12 siang akan dijemput ya”
“Baiklaaah. Saya keliling dulu kalo gitu”

==

Iya. Masih punya waktu 20 menit.

==

19 menit keliling radius 187 meter dari kantornya.
Lumayan dapet syal satu biji.
Menyisakan 1 menit jalan santai.
Saya sih tepat waktu orangnya.
Kalo bukan lagi di Indonesia ya.

==

Balik ke lokasi, jemputannya belum datang.
Ya sudah lah, ngobrol basa basi untuk nambah network.

==

“Mas, asli darimana”, tanyanya
“Indonesia, Mas”, saya respon segera.
“Ohhh.. Indonesia. Ya ya.. jauh sekali”, katanya.
“Iya, untung ada pesawat. Kau asli sini kan?”, jawab dan tanya saya serius.
“Saya dari Syria”, sambil nyengir
“OOOHH.. Really?”, saya menegaskan. Tiba-tiba bahasa Inggris.
“Yeap. Ngungsi dari negara sendiri”, masih nyengir penuh arti.

==

Oh menarik nih pikir saya.
As we know already, Syria is currently overwhelmed with conflicts.
Political, ISIS, massacre.. you name it.
Semua itu bikin banyak warga Syria mengungsi ke berbagai daerah.
Tentunya Turki jadi salah satu destinasi favorit sejak beberapa tahun lalu.

==

“So, did you leave your family back there?”, saya basa basi penasaran.
“Yeap, but they’re all safe”
“There are places that still be considered as safe in Syria”
“Everything runs *quite* normal”
“But I’m not sure until when”, jawabnya panjang.

==

Lalu saya berusaha menyelami lebih dalam:
“So what do u think causing all the problems in Syria?”
“Well everything you see in TV, those are lies”
“Really? How come?”
“Do u know Masonian?”
“What do u mean? Freemason?”
“No. Masonian”
“Mmmm not sure. What is it?”

==

Lalu dia berpikir sejenak. Kemudian dia googling.
Percayalah..
Saya pun sambil googling di hape saking penasaran.
Tapi yang keluar masa Rock Band dari Australi.
Ya masa konflik di Syria disebabkan oleh Rock band seeeeeh?

==

“This.. this is the symbol of Masonian”, dia bilang.
“OOOOOHHH.. ya bener atuh, Kang. Itu mah Freemason”, responku penuh keyakinan.

==

Lalu dia lanjut curhat:
“Iya. Ini nih mereka yang bikin skenario-nya”
“ISIS, mana ada Islam kayak gitu. Bunuh-bunuhin orang lalu masuk ke Youtube”
“Freemason ini kuat. Mereka gak peduli Islam, gak peduli Kristen. Mereka pinginnya manusia kiblatnya ke mereka juga”
“Ini semua skenario. Ditambah Syria itu kaya akan minyak. Indah pula. Turki sih kalah indah”
“Masuk lah Amerika ke Syria. Iran pun juga. Mereka memanfaatkan kondisi. Ujung-ujungnya juga duit”
“Kami lah jadi korbannya”
“ISIS.. (dia hela nafas).. jangan percaya sama apa yang kau liat di TV lah”

==

Saya penasaran:
“Lalu darimana kamu bisa tau tentang Masonian?”

==

Dia jawab singkat dan penuh arti:
“From Internet”.

==

SEKIAN.

Tuntutlah ilmu sampai ke Singapore

My brother and I had a little fun trip together to Singapore.
He’s never been on a plane before, let alone Singapore.
So it was quite “amusing” seeing him having a new experience in his life.

Kekhawatiran berlebih
Saking khawatirnya karena dia baru pertama kali, sampe saya berlebihan monitoring-nya sebelum hari keberangkatan.
Never thought I would say this to anyone on whatsapp:
“Gak usah bawa jaket. Singapore panas.. kayak Indonesia”
atau balas pertanyaan dia
“Enggak, gak usah bawa handuk.. kan di hotel udah ada”

..

Obrolan saat nunggu pesawat take off di runway
[Pilot mengumumkan akan take off sekitar 10 menit lagi karena antrian pesawat]
Me: “Tuh liat terminal baru dibangun salah satunya karena ini, udah gak nampung lagi bandaranya.. Makanya pesawat kebanyakan antrian. Bikin delay”
Him: (setengah bisik-bisik) “Gue kira ini pesawat gak jalan-jalan karena lagi dipanasin”
Me: (muka wondering – ini dia lagi becanda ato apa ya – masa dipanasin, mobil kali)
Mungkin karena dia nangkep muka bingung saya,
dia lanjut bilang: “Serius..”. Masih setengah berbisik.

YA ROSUL.. GAK SANGGUP DAH NAHAN KETAWA

..

Seru.
Selain menjelaskan hal teknikal mulai dari cara masuk bandara, kenapa perlu scanning, check in itu apa, proses imigrasi,
saya anggap perjalanan ke Sing ini studi banding biar dia bisa liat perbedaan culture. Dia bisa observasi mengenai kedisiplinan, kebersihan, habit dan nilai-nilai yang perlu ditiru dan yang enggak.

..

Rasanya cukup berhasil.
Kemarin pas pulang ke rumah ortu, kamar dia sedikit lebih bersih.

..

Ya.. Kadang..
Pembelajaran itu mahal harganya

..

PhotoGrid_1407637776102[1]