Biaya Perjalanan ke Norway

Lanjutan dari postingan blog sebelumnya, berikut perkiraan biaya perjalanan ke Norwegia selama satu Minggu. Silahkan sesuaikan dengan kebutuhan masing-masing ya. Karena ini cuma referensi based on perjalanan saya tengah Maret 2018 kemarin. Bisa jadi biaya summer trip beda. Asumsi mengatur semua perjalanan sendiri, tidak ikut tour dari Indonesia.

PESAWAT

  • Tiket PP Ekonomi CGK – Oslo range-nya dari Rp 10 – 20 juta
  • Tiket one way Oslo – Tromso: Rp 2 – 4 juta
  • Tiket one way Tromso – Bregen: Rp 2 – 5 juta

Kalo pake web agregat semacam skyscanner,  multiple airlines seperti di bawah ini bisa lebih murah, tapi tidak saya sarankan. Jika salah satu pesawat delay, bisa berbahaya untuk urutan penerbangan kita lainnya. Selain itu biasanya waktu tempuh jadi lebih lama.

Pilihan terbaik tetap satu kode booking dari satu airline.

Let’s say kita ambil tengah: Rp 16 juta + Rp 3 juta + Rp 3 juta = Rp 24 juta

HOTEL

Oslo: Rp 1 – 4 juta/malam. Tentunya banyak hotel di atas Rp 4 juta/malam. Makin mahal, lokasinya biasanya makin nyaman dan dekat dengan atraksi turis. But try also Air BnB please.

Tromso: Rp 1.5 – 4 juta/malam. Saya coba booking untuk Maret 2019, sudah banyak yang di-book gilak! Mungkin juga karena sistem hotel belum dibuka untuk setahun ke depan. Makin dekat waktunya, rate hotel akan makin naik. Yang biasanya bisa dapet 2 juta, bisa tiba-tiba jadi 3 jutaan. Khusus untuk Tromso, baiknya dari jauh-jauh sudah persiapkan hotel.

Bergen: Rp 500 ribu – 3 juta/malam. Bergen gak semahal Oslo dan Tromso. Booking di akhir-akhir pun masih punya kesempatan untuk stay di lokasi yang bagus.

Oslo 1 malam + Tromso 3 malam + Bergen 2 malam = Rp 2 juta x 6 malam = Rp 12 juta

IMG_4165

MAKAN

  • Harga satu paket Burger King sudah dengan minum dan french fries: Rp 250 ribu
  • Harga lunch/dinner yang agak fancy: Rp 600 ribu – Rp 1 juta
  • Harga bottled water: Rp 60 – 100 ribu
  • Harga soda: Rp 60 – 100 ribu
  • Harga tap water di hotel: 0 dengan kualitas kadang lebih baik daripada bottled water, tergantung area.

Asumsi biaya makan dengan Burger King 2x7xRp 250 ribu = Rp 3,5 juta

TRANSPORTASI LOKAL

  • Oslo Flytoget PP dari Bandara ke Oslo Central Station: 2x Rp 320 ribu = Rp 640 ribu
  • Taxi Bandara Tromso  ke City Center: 2 x Rp 400 ribu = Rp 800 ribu
  • atau
  • Bis dari Bandara Tromso ke City Center: 2 x Rp 100 ribu = Rp 200 ribu
  • Flybus PP dari Bregen ke City Center: 2 x Rp 150 ribu = Rp 300 ribu

Selama di Norway, saya kebanyakan jalan kaki. Jadi kurang paham dengan biaya subway, bus, tram atau transportasi publik lainnya.

OK, biaya total tertinggi transportasi: Rp 640 rb + Rp 800 ribu + Rp 300 ribu = Rp 1,74 juta

BIAYA LOCAL TOUR

Oslo: 0. Jalan kaki aja ke mana-mana. Museum pun kebanyakan gratis.

Tromso:

  • Reindeer Sled = Rp 3.5 juta (DAMMIT.. baru nyadar, ternyata mahal ya)
  • Dog Sled = Rp 3.5 juta (HHHHHH.. kemarin-kemarin mikirnya ini 1.5 juta)
  • Northern Light = Rp 1.7 – Rp 2.5 jt (it’s a must!)

Bergen:

  • Half day Fjord Cruise: Rp 800 ribu – Rp 1.1 juta
  • atau
  • Full Day Fjord Cruise: Rp 3 jt

Total biaya local tour selama di Norway: Rp 10 juta

BIAYA LAINNYA

  • Tempelan kulkas di Norway rata-rata di harga Rp 100 – 200 ribu per biji. Loooong sighs.
  • Secangkir kopi atau hot chocolate: Rp 100 ribu
  • Satu bungkus rokok: Rp 220 – 250 ribu
  • Sepatu boots: malah ada yang suka sale kalo di akhir Maret jadi Rp 1.5 juta
  • Jajanan di minimart: variatif mulai dari Rp 30 – 50 ribu

Yaaa.. anggap lah ya total-total Rp 2 juta

==========================

Thats it. Mari kita jumlahkan total perkiraan biaya dengan gaya medium di Norway selama 7 hari:

  1. Pesawat: Rp 24 juta << kalo beli dari jauh2 hari harusnya bisa jd 17 jt aja totalnya
  2. Hotel: Rp 12 juta << ini bisa dikurangi asal mau kompromi
  3. Makan: Rp 3.5 juta << ini bisa dikurangi asal mau ngakalin
  4. Transportasi Lokal: Rp 1.74 juta << ini bisa berkurang kalo mau susah dikit
  5. Local tour: Rp 10 juta << kalo Reindeer dan Dog sled hilang, cuma keluar 3 juta!
  6. Biaya lainnya: Rp 2 juta << ini bisa lah irit jadi 1 juta

Total investasi optimal: Rp 51,24 juta

Total investasi untuk kesehatan mental: Rp 34 juta!!! YEAYYY. BERANGKAAAAATTTT!

IMG_3788

=========================

Note: 

Saya tidak hitung pesawat dari Bregen ke Oslo, saya sarankan kalau pulang dari Oslo dan posisi terakhir berada di Bergen, maka ikut tour Norway in a Nutshell aja. Tur tersebut merupakan excursion dari Bergen menuju Oslo naik perahu dan kereta dengan pemandangan yang luar biasa indah.

Jadi, instead of naik pesawat ke Oslo, bisa sekalian jalan-jalan aja seharian nyampe di Oslo dari Bergen dengan tur ini. Rasanya akan lebih berkesan. Coba gugling aja Norway In a Nutshell tour from Bergen to Oslo. Atau mau sebaliknya? Bisa kok!

Tips dan trik biar gak gila:

  1. Hotel sebetulnya standar. Saya pikir London malah jauh lebih mahal. Kalo dari jauh-jauh sudah booking, atau rame-rame dengan teman sewa Air BNB atau apartment via agoda/booking.com, biaya akomodasi akan jauh berkurang.
  2. Bawa makanan sebisanya dari Indonesia. Mau bawa mie instant boleh, bawa dendeng kering, beras dan mini rice cooker ya monggo aja. Custom Norway gak gitu permasalahkan tentang ini rasanya. Jangan lupa bawa saos, bon cabe, sambal bu Rudi ato apapun survival kit mu di Norway. Karena makanannya kebanyakan sangat asin.
  3. Siapkan botol minuman kosong untuk diisi tap water ato minuman apapun di hotel yang gratis. Tap water di Norway dikenal sangat drinkable dengan kandungan mineral yang sangat baik. Beberapa daerahnya bahkan dikenal memiliki tap water dengan kualitas lebih baik dibandingkan bottled water.
  4. Kalo kamu inap di hotel ato apartment yang menyediakan sarapan, jangan lupa bawa pisang dan buah-buahan lainnya serta roti atau kue untuk dibawa ke kamar. Bisa dimakan sebagai cemilan nantinya di kamar ataupun bekal ketika jalan-jalan.
  5. Siapkan pembelian excursion tour dari Indonesia. Beli via online kalo memang itinerary-mu sudah mantap. Kadang ada diskon pembelian online ataupun karena membeli dari jauh-jauh hari.
  6. Kalau kamu sering ke luar negeri, pelihara lah membership Star Alliance ato apapun. Di Norway, karena penerbangan nasionalnya banyak menggunakan SAS (yang tergabung dengan Star Alliance), maka kamu bisa masuk lounge-nya gratis. Gak perlu beli makan lagi kan ya kalo membership-mu sudah gold. Check in pesawat pun bisa prioritas walaupun tiket pesawat yang kita beli kelas ekonomi.
  7. Coba cek rate kartu kredit atau debitmu sejak di Indonesia terhadap Norwegian Krone (NOK). Kalau bagus, gak usah bawa banyak-banyak uang cash. Transaksi di sana sudah banyak cashless.

Jangan lupa, negara Skandinavia itu mahal-mahal biaya hidupnya. Orang yang tinggal di Swedia dan London aja sampe malas ke Norway karena dianggap mahal. Padahal Swedia aja udah mahal bener. Tapi kalo kita persiapkan dan bikin strategi jitu sama temen-temen, rasanya biaya-biaya itu masih bisa dipangkas. Ilustrasi di atas hanya untuk kepergian sendiri dan budget rada “santai”.

Selamat merencanakan liburan!

Advertisements

Itinerary Norwegia (Winter Trip)

Langsung aja ya. Berikut itinerary perjalanan saya di Norwegia selama 7 hari. Hari pertama hanya setengah hari, hari terakhir gak perlu dihitung karena sepanjang hari di bandara (I’ll explain later). Tapi anehnya, dalam waktu yang sangat singkat itu, saya merasa perjalanan dadakan kali ini cukup efektif sebagai preview perdana untuk merasakan “feel” Norway in a nutshell. Postingan ini akan amat sangat panjang. Brace yourself.

Day 1 (Oslo)

  • Tiba di Bandara Gardermoen Oslo jam 10.45 pagi. Jangan bingung, ada kereta yang bisa membawamu dari airport menuju pusat kota Oslo. Kereta express-nya bernama Flytoget dengan one way ticket seharga NOK 160. Yaa kalo dirupiahin sekitar 320 ribu. Kereta ini butuh waktu 19-22 menit menuju Oslo Central Station. Dari sana, saya jalan kaki geret koper kurang lebih 10 menit menuju hotel.
  • Saya inap di area dekat taman Eidsvolls Plass Park yang kata review-review mah salah satu pusat keramaian kota Oslo. Hari pertama saya habiskan dengan berjalan kaki di sekitar National Museum, Royal Palace, area pusat perbelanjaan Oslo dan ngopi-ngopi di pinggiran lautnya. Semuanya bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Day 2 (Oslo – Tromso)

  • Paginya saya sempatkan diri untuk main-main di Oslo Opera House. Beruntungnya mengunjungi Oslo saat winter, Oslo Opera House looks amazing covered in snow! Sekitar 2 jam-an saya foto-foto di areanya, terutama di bagian atap. Saya harus naik puluhan anak tangga yang masih banyak tertutup salju atau black ice bahkan. Kalo salju yang masih lembut, malah gpp untuk diinjak, black ice ini licin banget. Pastikan sepatu kita ada taringnya. Rawrr.
  • Dari tempat saya inap, Oslo Opera House ini ditempuh dengan jarak 15-20 menit jalan kaki. Pulangnya saya sempatin dulu untuk mampir di coffee house sekalian toilet break. Penting lah ya ngakalin kandung kemih kita ketika winter trip. Biar efisien, anggaplah ngopi-ngopi ato secangkir coklat panas bagian dari itinerary.
  • Jam 1 siang saya cek out dari hotel menuju Oslo Central Station. Beli tiket Flytoget menuju Gardermoen Airport menuju.. Tromso!
  • Sampe Tromso sekitar jam 17.20. Butuh waktu direct flight 1 jam 50 menit dari Oslo ke Tromso. Bandara Tromso tuh gak gede, siapkan jaket tebal ketika turun pesawat karena bisa aja kamu kayak saya saat itu, turun pesawat menuju bis sudah disambut salju dan angin yang kuat, menuju arrival terminal.
  • Sebetulnya dari Bandara Tromso menuju pusat kota ada pilihan transportasi bis juga. Tapi karena saya liat gugel map jarak tempuh taxi dari bandara menuju pusat kota cuma 9-10 menit, ya sudah lah.
  • Saya pilih hotel bersebrangan dengan Arctic Chatedral. Dipisahkan jembatan Tromso maksudnya dengan jarak tempuh jalan kaki 20 menit. Sengaja lagi saya pilih hotel di area turistik biar gak pikir panjang lebar. Malam itu saya habiskan untuk berkeliling gak jauh-jauh dari hotel sekalian makan malam sambil gugling-gugling bisa ngapain aja di Tromso.

Day 3 (Tromso)

  • Hari ke-3 saya putuskan untuk coba Reindeer Sled. Ada beberapa cara beli paket tour di Tromso: online, di hotel dan tourist information center. Bandingkan aja harganya kalo memang kamu belum beli online, cari aja yang paling murah dan lokasi penjemputan paling cocok dari tempatmu inap.
  • Dijemput di hotel jam 9 pagi dengan sebuah bis, saya manfaatkan dulu beberapa jam sebelumnya untuk keliling pagi-pagi sekitaran hotel, lalu breakfast. Tips: karena segalanya mahal di Norway, ambil aja pisang ato buah lainnya serta kue ato roti buat bekal di perjalanan ato taro di kamarmu untuk ngemil nantinya. Bahasan untuk duit-duitan, nanti ya.

NBlog5

  • Reindeer Sledding adalah aktivitas di mana kita bisa kasih makan rusa-rusa dan fata foto cantik dan ganteng bersama rusa kesayanganmu, untuk kemudian lanjut tur keliling daerah sekitar dengan menaiki sejenis kereta luncur yang ditarik oleh beberapa rusa. Gak kok gak kenceng. Pelan banget malah. Berasa penganten diarak gitu. Semoga dirimu lebih beruntung karena saat itu cuaca kurang asik. Hujan salju turun disertai angin, sepanjang perjalanan, kerjaan saya cuma sibuk tutup muka dan doa-doa
  • Selesainya, rombongan dibawa ke sebuah tenda untuk makan siang. Ada dua pilihan, menu vegetarian ato makan sup daging rusa. Untuk yang gak suka kambing ato pun domba, saya sarankan untuk pilih menu vegetarian aja lah. Karena daging rusa itu mirip domba after taste-nya.
  • Sambil makan, kita dikasih cerita tentang Sami Culture. Gimana mereka bisa bertahan hidup di suhu -52 derajat sampe dikasih liat performa budaya nyanyi tanpa alat musiknya. Buat yang penasaran kayak gimana, monggo mampir IG Socialjunkee, lalu mampir ke story highlights: Reindeer Sled.
  • Setelah diantar pulang ke hotel, gak mau rugi lah saya, pingin jalan-jalan sekitar Tromso lagi untuk foto-foto. Sorenya saya sempatkan muter gak beraturan dengan niat ke arah jembatan Tromso. Rupanya kawan-kawan, di tengah jalan, hujan salju disertai angin lagi. Dalam kondisi itu, everything went grey, tapi entahlah kerasukan setan yang bernama Gakh Maw Rughi kali ya.. saya teguhkan fisik dan psikis menembus bahkan trotoar-trotoarnya yang dipenuhi salju tebal. Brooo.. berat banget jalan di kondisi kayak gitu. Ku merasa jihad.

Day 4 (Tromso)

  • Malam sebelumnya saya sempatkan dulu untuk beli online Dog Sledding. Aktivitas di mana kita akan diajak ke lokasi Alaskan Huskies dipelihara.

NBlog8

  • Oh iya, di hari ketiga, sambil jalan-jalan, saya sempat beli Northern Lights tour. Ya iya lah. Ini lah alasan orang mau jauh-jauh mendekati Arctic dan susah-susah di tengah badai salju.
  • OK, jadi ada dua hal mengenai Northern Lights tour di Tromso, kamu bisa ikut rombongan bis gede ataupun bisa ikut rombongan minivan kecil dengan kapasitas maksimum 12-14 orang. If I were you, I’d take the small group. Seharusnya sedikit lebih mahal, tapi saya beruntung malah dapet yang lebih murah di hotel sebelah. Kata mbak resepsionisnya, “biasanya akoh mah gag maw jual ke tamu hotel lain, mz”.. dengan logat American English. Well I guess I was lucky.
  • Jam 7.30 malam, small group berangkat dari miting point di belakang Tourist Visitor Center. Di awal, tour guide sekaligus driver memperkenalkan diri dan ngasih tau petuah penting dalam pencarian Northern Lights: (siaul saya lupa, bentar buka contekan dulu). Ah iya.. Positivity, Patient and Luck. Sepertinya dia ngasih tau begitu biar aman dari ditimpuk salju ato tomat sama peserta kalo gak nemu aurora kali ya. Ditekankan banget kalo wisata aurora ini ya tergantung alam. Gak ada hal yang pasti walaupun metode pencarian mereka udah mayan scientific sih. Ramalan cuaca, posisi bintang-bintang dan sebagainya.
  • Guess what.. I was lucky! Di spot pertama, yang cuma 15-20 menit dari kota, kita udah dapet penampakan. Rupanya kamera hape kita bahkan bisa liat aurora lebih jelas dibandingkan mata loh. Jadi saat perburuan itu, kamera hape bisa juga dijadiin tool untuk menangkap aktivitas aurora. Saran saya: siapin pakaian hangat dari atas sampe bawah. Jangan sok kuat, serius! Jangan lupa juga bawa tripod, kecuali kamu mau sewa sebesar 100 NOK. Jangan lupa juga bawa kamera yang bisa setting manual. OK meskipun kalo kamu gak bawa kamera, tour guide akan motoin kamu dengan salah satu background alam terindah yang pernah ada di bumi.

NBlog9

  • Jam 11 malam, rombongan memutuskan untuk udahan. Beberapa merasa sudah terpuaskan dan tidak tahan dingin. Saya pun agak lega sama keputusan itu karena baru nyadar udah menahan kencing selama 2 jam.

Day 5 (Tromso – Bergen)

  • Merasa misi sudah terpenuhi di Tromso, saya putuskan untuk ke Bergen. Kota kedua terbesar di Norway setelah Oslo. Pesawat saya jam 10.35 pagi menuju Bergen, dengan jarak tempuh 2 jam 25 menit direct flight. Tiba di Bergen jam 1 siang.
  • Tapi paginya, saya sempatkan dulu kurang lebih 1.5 jam untuk jalan kaki bulak balik menuju Arctic Cathedral. Gereja yang selesai dibangun tahun 1965 ini dijuluki the Opera House of Norway karena mirip-mirip Opera House di Sydney. It was lovely walk on the Tromso Bridge, it would be a sin if I didn’t recommend this “little” walk to you. Di atas jembatan, kita akan liat keindahan kota Tromso dari ketinggian kurang lebih (mmm) lumayan tinggi (gak inget lah berapa meter).
  • Ada beberapa metode menuju city center dari Bergen Airport: taxi, flybussen dan juga kereta. I strongly suggest you to take Flybussen. Bisnya nyaman banget, bisa dibeli di mesin atopun sedikit lebih mahal beli di atas bis. Siapkan duit ya kalo beli di bis, karena kadang suka error untuk pembayaran dengan kartu. Perjalanan dari BGO menuju city center sekitar 20 menit dengan Flybussen. Kereta akan lebih lama sekitar 2x lipat waktu tempuhnya karena banyak pemberhentian.
  • Bergen.. ah.. city center-nya cantik sekali. Area di tepian Bergen Wharf udah the best area to stay lah. Bangunan di sekitar banyak dari kayu-kayu dengan arsitektur khasnya. Saya gak bisa bilang arsitektur di kota Bergen adalah khas Norway karena kota ini dulunya jadi pusat perdagangan. Mulai dari pedagang turki sampe Jerman. Jadi banyak budaya yang mempengaruhi arsitektur kota ini.
  • Hari pertama saya manfaatkan untuk keliling sejauh-jauhnya kaki melangkah. Tapi sebelumnya sudah saya sempatkan untuk beli half day Fjord Cruise untuk keesokan harinya. Sebetulnya bisa aja saya naik kereta wisata dekat hotel, naik ke atas dengan angle yang cukup curam. Tapi katanya sangat menarik. Cuma sayangnya cuacanya agak mendung gerimis kecil beberapa waktu kemudian. Jadi saya batalkan niat untuk nyobain itu. Another time, Sya.. another time (finger crossed).
  • Karena saya pilih untuk tinggal di apartemen, malamnya saya sibukkan diri untuk menikmati Indomie saja lah. Jaga-jaga badan juga biar gak terlalu diporsir karena perjalanan eropa kali ini masih cukup panjang.

Day 6 (Bregen)

  • Half day Fjord Cruise dimulai jam 9.30 pagi. Naik perahu, sekali lagi.. masih di area the Wharf. Karena itu saya sangat menyarankan untuk short visit, tinggal lah di area yang benar-benar city center biar waktu mu gak habis di perjalanan.
  • Fjord Cruise ini penting banget masuk ke dalam itinerary kunjungan ke Norway. Gak cuma di Bregen sih sebetulnya, sepertinya di kota-kota lain pun ada. Karena pesisir laut Norway salah satu yang terpanjang di dunia.
  • Suasana Fjord Cruise akan sangat berbeda setiap musimnya. Antara winter, summer, spring dan autumn. Di winter, kita akan mengarungi laut di antara tebing-tebing tinggi yang ditutupi salju beserta rumah-rumah khas Norway. Asli lah berasa kayak lagi di dalam film Lord of The Rings.

NBlog11

  • Pilihannya udah tepat banget buat saya untuk ambil half day tour. Karena cuaca masih gak menentu, kapal pun putar balik dari rute yang seharusnya. Nah.. full day trip itu akan lebih jauh lagi (dan pasti makin indah lagi), cuma kebayang ya kalo cuacanya berangin luar biasa, mungkin kurang aman.
  • Pulang dari tour, saya kembali mengelilingi kota Bregen on foot. Ini adalah salah satu kota di Eropa yang saya sangat nikmati untuk berjalan kaki. Jarak di antara bangunan yang satu dengan yang lain seperti ada jeda, keseluruhan area seakan memberikan kesempatan buat kita untuk bernafas sambil mensyukuri apa yang kita lihat di depan mata. Penduduk lokal yang ramah, tata kota yang cantik dan aktivitas di sekitar banyak yang berkaitan dengan alam. Almost perfect.

Day 7 (Bregen – London)

  • Jam 10.35 – 14.35 adalah jadual penerbangan saya ke kota London. Seharusnya. Drama di mulai.. di sini.
  • Satu hal mengenai winter trip around Europe yang makin saya sadari adalah pertimbangan cuaca. Pagi jam 8 kurang saya sudah tiba di bandara dengan rasa ikhlas meninggalkan Bergen sedemikian singkatnya menuju London. Ya sudah, semangat baru, at least I’m gonna see London, pikir saya.
  • Tiba di bandara Bergen, kabut mengelilingi bandara, sempat-sempatnya tuh saya foto-foto karena ta’ pikir.. cakep euy airport berkabut tuh. Gak nyadar kalo kabut yang saya puji-puji itu ternyata bikin ujian kesabaran terpanjaaaaaang dan lamaaaa di sejarah penerbangan saya.
  • Penerbangan 10.35 dibatalkan. OK fine. Saya harus ambil bagasi yang sudah masuk untuk kemudian menunggu konfirmasi tiket baru. Selama 1 jam setengah menunggu, akhirnya saya dapet juga tuh jadual baru: Jam 15.40 menuju London. Yeayyy?? NOT
  • Jam 15.40 saya sudah bersiap diri di depan gate. Harap-harap cemas akutu. Jam di papan informasi menunjukkan pukul 15.45.. (ughh wtf). Daaaaan menit berikutnya: CANCELLED. ALLAHU AKBAR.
  • Saya kembali mengulangi proses pengambilan bagasi, lalu ikut antrian untuk tau nasib berikutnya bagaimana. Perlu diketahui, dalam kondisi seperti ini, semua jadual penerbangan jadi kacau. Efek dominonya sangat berasa. Pesawat yang mau landing pun diputar-putar dulu di atas, menyebabkan.. let’s say, walaupun cukup aman pada akhirnya untuk take off, YA GAK ADA PESAWATNYA. LOL sedih.
  • Akhirnya dengan segala drama, saya dapet tuh tiket terbang jam 18.20. Transit di Oslo, lalu terbang ke London. Meskipun pada akhirnya jam 19.00 baru take off itu pesawat. Tiba untuk transit di Oslo, lari-lari lah saya ke imigrasi. Karena pesawat berikutnya terbang jam 20.15. Sementara jam di hape menunjukkan waktu pukul 19.50. Imigrasinya pun jauuuuh.
  • “I’… I’m.. goin… (tersengal-sengal nafas).. to.. London“, kata saya ke petugas imigrasi Norway. ASLIK. Lari 7 menit menuju imigrasi itu melelahkan secara fisik dan psikis. Ya gimana.. takut ketinggalan pesawat dong. “Relax.. your plane will wait for you”, dia berusaha nenangin saya. And it worked! Nafas saya pelan-pelan beraturan. Mulai bisa senyum sambil mikir, “Oiya ya ini satu kode booking, mestinya kalo pesawat yg satu molor, yg nyambung ya ikutan”. Betul euy.. sampe di gate, yg tadinya orang udah rame ngantri, duduk lagi karena flight delayed.. 45 minutes. Antara hamdallah dan ya udah lah bisa ngaso dulu.
  • Singkatnya, yang seharusnya jam 2 siang sudah menikmati London, kenyataannya jam 12 malam baru tiba di hotel.
  • Lesson learned: Hati-hati kalo beli pesawat.. eh tiket pesawat maksudnya dengan kode booking ato pesawat yang beda. Kita gak pernah tau apa yang akan terjadi. Selalu spare time lebih banyak antara flight yang satu ke yang lain.

Baiklah.

Itu lah itinerary 7 hari di Norway. Mengenai biaya-biayanya, saya akan share di postingan blog selanjutnya.

Ragam Tipuan di Istanbul

Untuk thread mengenai scam di Turkey – khususnya Istanbul, bisa search di twitter dengan menuliskan: @social_junkee turkey. Ada cerita saya dan mention pengalaman beberapa teman di twitter. Tulisan ini rangkuman dari twit yang dilengkapi beberapa cerita orang-orang.

Sebelum lebih jauh, saya mau pastikan dulu tulisan ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan dan tau apa yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi tertentu. Bukan malah menimbulkan ketakutan yang berlebihan sehingga yang baca malah jadi ilfil sama Turki.

Rasanya kita semua akan setuju kalo Istanbul itu kota yang sangat indah dan pantas untuk masuk ke bucket list traveling. Oknum jahat ada di semua belahan dunia, semoga tulisan ini bisa bantu mempertajam common sense untuk mengenalinya.

(kota para penyayang kucing)

Baiklah.. mari kita mulai list scam (tipu-tipu) yang mungkin terjadi:

TAXI

Seharusnya, taxi di Istanbul menggunakan argo meter. Kesulitannya, banyak dari supir taxi di Istanbul yang either speaks no english ataupun lebih parahnya, sama sekali no english. Berikut beberapa kemungkinan tipu-tipunya:

  • Menolak menggunakan argo/meter
    • Biasa terjadi di bandara dengan berbagai alasan, misalnya kemacetan, jalan pintas atau menunjukkan kesan bahwa standar taxi di sana ya seperti itu
    • Lakukan:
      1. Cek google map, jarak tempuh, lama waktu dan apakah macet atau tidak
      2. Minta supir menggunakan dan menyalakan argo meter-nya
      3. Kalau attitude-nya gak bagus, kita selalu bisa menolak dan cari taxi lain
  • Sulap uang
    • Supir menukar uang yang sudah kita berikan dengan pecahan yang lebih kecil. Misalnya dari 100 Lira menjadi 10 Lira. Biasanya kita akan di-distraksi. Contoh: tangannya menunjuk ke belakang kita – persis setelah kita kasih uang, otomatis kita nengok dong. Ketika kepala kita udah balik ke arah semula, uang udah ditukar dengan pecahan yang lebih kecil. Lalu kita dibilang salah kasih duit ke dia
    • Lakukan:
      1. Pastikan jumlah uang yang kita keluarkan
      2. Minta supir sebut besaran argo, lalu minta dia menyebut besaran uang yang sedang kita pegang, secara psikis akan mengurangi niat jahatnya
      3. Jangan biarkan dia mengalihkan perhatian kita ketika transaksi

BELANJA

Sebagai rule of thumb, untuk pakaian, harga di Turki sama atau gak akan lebih mahal dari Jakarta. Rata-rata orang Istanbul are a good salesmen. Sangat persuasif dan di titik tertentu seperti memaksa. Gak akan kenapa-kenapa juga kalo kita sadar itu dari awal.

  • Overpriced stuffs!
    • Barang dengan price tag Euro, diganti ke Lira.. dengan alasan kita adalah pelanggan spesial. Jadi, jaket 800 Euro ditawarin jadi 800 Lira, misalnya. Padahal harganya bisa jadi gak sampe 200 Lira.. tapi karena terkesan kita dispesialkan.. bisa kena deh
    • Lakukan:
      • Get the hell out and never come back
  • Karpet palsu
    • Suka ada orang sok kenal dan tetiba ramah banget ngajak ngobrol ketika kita lagi liat-liat barang. Dia akan bilang tau karpet lokal terbaik dengan harga miring. Apa yang sebetulnya dia lakukan adalah bawa kita ke toko karpet dengan kualitas jelek yang di-mark up harganya. Dia dapet komisi.
    • Lakukan:
      1. Hindari orang itu, tunjukkan gestur kita gak mau diganggu
      2. Kalo udah keburu dibawa ke toko tersebut, tetap tenang dan bilang aja gak ada yang pas untuk seleramu
      3. Mereka akan keukeuh. Jadilah lebih kokoh. Stay calm and tolak.
  • Tipuan mata uang
    • Segelas teh turkey yang seharusnya 5 Lira, jadi 5 Euro
    • Lakukan:
      1. Biasakan tanya harga sebelum beli untuk makanan yang gak ada harga di menu
      2. Istanbul terima Euro, tapi akan kasih kembalian dengan Lira. Kroscek di google untuk nilai mata tukar uang
  • Gak ada kembalian
    • Belanjamu 80 Lira, kamu kasih 100 Lira, lalu diajak ngobrol ngalur ngidul sampe kamu lupa kembalian 20 Lira-nya karena pujian ini itu untuk dirimu dan negaramu yang dilempar bertubi-tubi
    • Dia bilang gak ada kembalian, lalu nawarin barang yang lain
    • Lakukan:
      1. Fokus. Boleh diajak ngalor ngidul ngobrol, gak usah dengerin banget, cut the crap, minta kembalian. Done.
      2. Selalu siapkan uang pecahan kecil
  • Sulap uang
    • Ini sama modusnya seperti supir taxi di atas ya. Menukar uang yang sudah kita kasih dengan pecahan yang jauh lebih kecil ketika kita lengah
    • Lakukan:
      • Ya jangan lengah

HELLO, MY FRIEND

Salah satu ucapan yang akan sering kita dengar di pojokan manapun Istanbul adalah sapaan “Hello, my friend!”. Diikuti dengan gestur sok kenal, sok tertarik tentang darimana kita berasal, gak nutup kemungkinan your love life. Kemungkinan yang ada ketika kamu tanggapi adalah:

  • Diajak ke Club
    • Kamu diajak ke club yang katanya paling menarik tempat orang-orang lokal nongkrong; semacam peringkat 1 hidden gem versi on the spot. Disuguhi berbagai minuman yang bahkan kamu gak minta, once kamu sadar, bill-nya sudah berjuta-juta. Kalo kamu gak mau bayar, berarti dianggap melanggar hukum.. plus orang-orang berbadan gede sudah mengelilingimu.
    • Lakukan:
      1. Setelah di “Hello, my friend”-in, kamu bisa senyum lalu move on gak usah tanggepin
      2. Kalo keburu menanggapi dan kamu gak mau suuzon, tes aja, kalo dia (dan mungkin temannya) ngajak ke club ato kafe yang sangat spesifik dan gak mau alternatif lainnya, kemungkinan besar berniat jahat
  • Dibawa ke restoran ato toko ini itu
    • Tentunya yang dia harapkan adalah komisi
    • Lakukan:
      • Sampe sini sudah sangat paham ya kenapa sampe ada peribahasa “Don’t talk with strangers”
  • Mau dianterin gak?
    • Ini percobaan scam yang haiyah banget. Bisa jadi kejadiannya di airport ato manapun ketika kamu geret-geret koper. Oknum akan ajak ngobrol berbaik hati seakan nawarin nebeng mobilnya dengan alasan tujuannya searah. Dia akan sangat persuasif dan mungkin mengaku bukan orang lokal ato orang lokal yang kerja di Budhapest ato mana lah. Diteruskan dengan cerita adeknya akan jemput dia dan kebetulan searah dengan tujuanmu.
    • Goalnya tentunya semua hartamu dan apapun yang ada di kopermu. Satu mention yang masuk di thread twitter saya, temannya unfortunately mengiyakan tawaran lalu berakhir dengan dilucuti hartanya di sebuah apartemen.
    • Lakukan:
      • Jangan terlalu terbuka dengan orang asing. Betul kita harus ramah, tapi jaga lah hal-hal spesifik seperti tujuan detail, pekerjaan detail, dsb dsb yang tidak perlu
  • Minuman atau makanan isi obat tidur
    • Kita ditawari makanan ato minuman yang ternyata.. bikin pingsan. Tentunya lalu segala kita punya apa dilucuti
    • Lakukan:
      • Jangan pernah terima makanan dan minuman dari orang asing. Titik.

OK selain hal-hal di atas, saya ada baca dan dengar cerita mengenai pencopetan, makanan dan minuman yang gak kita pesan tapi di-charge, mesin EDC kartu kredit yang katanya rusak dan akhirnya swipe ulang – ternyata di-charge dobel dan lain sebagainya.

Sebagai rule of thumb: betul sekali kebanyakan orang Turki senang bercanda, bikin kita tertawa, sesekali kasih pujian terhadap apa yang kita pakai dan gak lupa seakan excited ketika tau kita dari Indonesia. Beruntung ketika kita ketemu yang sincere.. that’s the real deal. Tapi mari batasi secukupnya dengan tidak terlalu share informasi sensitif terhadap orang asing dan berinteraksi seperlunya.

Sebagai kesimpulan, apakah Istanbul aman?

Saya bilang mah sejauh tulisan ini dibuat – iya aman. Most likely tipuan di Turki bukan hal yang mengancam nyawa. Tapi sangat halus dan bikin bete walaupun cuma kehilangan 50 Lira misalnya. Ketika kita sudah melakukan riset tentang berbagai tipuan di Turki, lalu membatasi interaksi dengan orang asing, foto-foto di Blue Mosque akan sangat menyenangkan.

Kalo ada tambahan atau pertanyaan, silakan komen ya. Selamat merencanakan liburan!

insightful traveling

Tanggal 28 Desember 2017 kemarin saya diajak ketemuan dengan para pejalan di kantor IWasHere Networks di bilangan Kuningan. Dengerin para pejalan itu cerita ini itu bikin kaki makin gatel buat ke mana-mana. Bahkan ke Indomaret dekat rumah pun jadi adventurous *insert emoticon girang*

IMG_9326(ini undangannya. saking semangat, coba liat.. tanggalnya aja udah setahun ke depan)

Sedikit background cerita, saya baru ngeh kalo harus bikin slide presentasi siang harinya di hari H. Tergopoh-gopoh lah merumuskan ide yang untungnya memang sudah ada di kepala. Perlu sedikit trigger aja dari the fower of kefefet.

Insightful Traveling terpilih sebagai tema dari jalan-jalan 2018 saya. Apaan tuh? Exactly. Suka ngarang emang.

Jadi Insightful Traveling ini pada dasarnya adalah perubahan cara berpikir mengenai bagaimana saya menyikapi jalan-jalan di 2018. Kalau ditanya mau ke mana tahun 2018? terlalu banyak keinginan ke sana kemari. Terlalu banyak tempat yang ingin saya kunjungi. Akhirnya saya memutuskan tahun 2018 itu bukan cuma masalah “kemana” tapi juga “ngapain di sana”. Gampangnya.. foto-foto pemandangan, udah.. selfie begini begono, kudu.. Apalagi dong? Nah.. insight traveling ini adalah challenge yang saya ajukan ke diri sendiri untuk meng-upgrade experience perjalanan. How?

Buat saya, dasar pemikiran dari Insight Traveling secara pribadi ada 3 hal:

  1. Experience over possesions
  2. Semua tempat itu unik
  3. Tidak perlu terlalu khawatir harus ke mana

Heu? Apaan? Ngarang lagi lu ya, Sya?

Gini..

Experience over possesions

Udah 2018. Saya pingin lebih kaya secara pengalaman. Gak perlu sok-sokan juga gak kepingin materi ini itu ya. Ini mah bahasan lain. Tapi artinya sesederhana, kalo duit di kantong untuk budget multi-purpose (di luar kebutuhan primer) cuma ada 3 juta, saya akan lebih pilih menghabiskannya untuk ke Banyuwangi dibandingkan beli sepatu baru. Gimana kalo punya 6 juta? Ya udah sih ke Banyuwangi pake sepatu baru. Beres.

Saya mau lapar dan kenyang akan pengalaman. Hal-hal baru. Cerita-cerita dan kenangan sebagai catatan saya pernah mengulik satu tempat. Pingin ngobrol santai dengan orang lokal, mau coba makan jangkrik di jogja, numpang tidur di rumah suku baduy, ato apapun yang sebelumnya gak kepikiran untuk dilakukan. Subjektif? Iya lah. Kan hal yang sudah ataupun ingin dilakukan, antara saya dan kamu bisa beda.

Semua tempat itu unik

Siapa di sini yang berani bilang Jakarta Barat sama Jakarta Selatan itu sama aja? Sama-sama Jakarta, gubernurnya sama, wakilnya sama, apanya yang beda? Pasti ada. Tarik lagi lebih spesifik, kelurahan Kelapa dua sama Kebon Jeruk aja pasti ada hal yang beda walaupun sama-sama di Kecamatan Kebon Jeruk. Taunya gimana? Jalan kaki, observasi, ngobrol dan mendengarkan.

Atas dasar pemikiran untuk lebih melek terhadap satu hal, saya kepingin 2018 ini insight yang saya dapatkan lebih tajam. Ketika kita melihat segala sesuatunya lebih detail, moga-moga rasa “ah ini mah basi – ah itu mah basi” bisa berkurang kalaupun ta’ bisa hilang.

Tidak perlu terlalu khawatir harus ke mana

Ada kalanya kita harus ke satu tempat berulang kali. Entah karena pekerjaan, mampunya ke situ aja ataupun emang saking sukanya sama tempat itu. Terus masa kita kudu mati gaya ketika ditanya orang “Eh gimana jalan-jalan lo ke Singapur?”, lantas kita jawab “Ya gitu-gitu aja sih. Tau sendiri kan lu Singapur. Bersih”. “Gimana Tokyo, bro?”.. “Ya gitu lah.. lagi dingin”. Titik.

Well, 2018.. saya pingin bisa kasih jawaban: “Gue kemarin ketemu expat dari Indo yang kerja di Tokyo udah 8 tahun. Dia cerita suka dukanya tinggal dan kerja di Tokyo.. $%$&^&^$%^%&^&^*&^*&*&*(*!!! … dan seterusnya”.

(Btw, obrolan sama expat ini belum sempat saya upload di Youtube.. tunggu yha)

Atau “Waahh gue akhirnya nyobain pisang yang kulitnya bisa dimakan di Tokyo”

Image-1

(nih berita tentang pisang mutant hasil bio reengineering orang-orang Jepang)

Jadi, 2018 gak perlu terlalu beban kudu ke mana. Kudu banget ke tempat baru. Kudu banget anti mainstream. Kalo emang harus ke Alfamart terus, just make sure kalo hari ini kita beli Chiki, besok beli Chitato. Kurang lebih begitu analoginya.

Terus kalo kenyataannya bisa ke tempat yang baru juga gimana?

Ya go for it lah, cuyyyy. Jangan dibikin terlalu ribet juga XD

=========================

OK balik lagi tentang gimana cara saya untuk jalanin konsep insight traveling?

  1. Walk on earth
  2. Observe
  3. Talk and Listen

Jangan terlalu harfiah amat jadi orang. Mentang-mentang dibilang Walk on Earth, lantas dari Jakarta ke Cirebon jalan kaki. Yang dimaksud adalah, saya akan lebih mencintai jalan kaki. Sadar gak sih banyak hal yang kemungkinan kita lewatkan ketika dari rumah ke Indomaret aja naik motor? Siapa tau ada iklan sedot WC metode baru di tiang listrik yang ternyata kita butuhkan, siapa tau ada mural baru di dinding deket kantor kelurahan yang bisa dipake buat bekgron selfie, siapa tau ada ibu-ibu lagi jemur pakaian yang demikian fotogenik. Jadi 2018 ini saya pingin lebih bersahabat dengan aspal. Halo kesandung polisi tidur, halo betis bengkak. Gpp. Worth it.

Image-1 (1)

(follow IG socialjunkee untuk dapet insight lebih dari kelurahan setempat)

Satu hal yang suka saya lakukan ketika jalan kaki adalah tengok kanan kiri (atas bawah depan belakang kadang-kadang). Satu tips penting adalah, lakukan senatural dan sewajar mungkin. Jangan kayak maling gitu loh maksudnya. Saya suka observasi hal-hal yang mungkin saya lewatkan ketika berkendara. Saya suka explore satu daerah yang notabene bukan area wisata for the sake of dapetin foto-foto lucu, nemu tempat buat selfie, ato pun coffee shop asik yang gak ada di radar trip advisor. Apapun tujuannya dan apapun yang didapatkan, gak masalah. Surprise me!

IMG_7826

(puas kalo dapet sesuatu yg instagrammable di tempat yang gak diduga)

Observasi ini gak melulu melalui pandangan mata tok. Kalo liat satu hal menarik, bisa kita manfaatin itu google untuk cari tau. Bisa juga tanya selebgram ato selebtwit, siapa tau instead of disuruh googling, malah dapet respon menarique. Dari observasi dasar, kita bisa cari tau lebih, coba liat sekeliling.. ada satpam gak gitu misalnya yang bisa diajak ngobrol ini itu. Nah di sinilah pentingnya you Talk and Listen. Mulai berani lah komunikasi ke orang asing. A simple hello with a smile would suffice to follow up the next interesting things. Beraniin diri aja. Sejelek-jeleknya respon orang palingan bilang “I don’t know” ato apa lah. Ingat juga untuk pake common sense, jangan orang yang keliatan lagi ribet sesuatu kita ganggu gugat. Tuhan nanti marah. Kalo udah berani mulai pembicaraan, penting rasanya untuk kasih pertanyaan yang tepat. Lalu dengarkan. Jangan malah kita curhat masalah keuangan kita 😦

Sekian sih bahasan kali ini.

Moga-moga manfaat yak buat yang baca. Jangan lupa di-like, komen dan subscribe. (Latihan jadi seleb Youtube). Good day!

When Life Hands You Lemon, You Need Water

Sudah pernah saya share sih di Twitter, but I’m gonna re-share it anyway..

Pertama kali menginjakkan kaki di Erpoa itu di Belanda.

Sekolah kurang lebih 16 jam penerbangan, saya putuskan untuk naik kereta menuju Centraal Station, Amsterdam.

Tujuan pratama saya tentunya cek in hotel. Yes, lelah dan.. mmm agak bau itu butuh  sebagai jawabnya.

Di kereta menuju centraal station saya melahit sosok familiar.

No.. Not that I knew him or anything, tapi sepertinya kulit cokokolat, mata agak belo, garis-garis wajahnya membaut saya yakin kalau dia bersaal dari.. Asia Tenggara.

The thing about seeing familiar faces in a so called unfamiliar place is somewhat comforting.

Tentunya tebakin saya betul.. tidak hanya dari Asia Tenggara, si bapak yang kira-kira berumur 400 tahunan ini bersaal dari Indonesia! So ngobrol lah kita.

Dari hasiil ngalor ngidul ketahuan kalau dia sudah tinggal lebih dari 5 abad  di Amsterdam. Bekerja sebagai chef di sebuah restroom di Belanda. Setahun selaki pulang ke Indonesia untuk mengunjungi keluarga. Dia sempat menawarkan apartmenen murah milik sahabatnya kali-kali saya butuh tempat tinggal selama di Amsterdam. Tentunya saya kolak dengan halus karena saya sudah booking hotel.

Speaking of hotel, akhirnya saya tanya apa dia tau galaksi hotel Ibis di Amsterdam.

Responnya cuma: “Oh itu dekat sekali, keluar dari station, tinggal jalan luruuuus aja lalu beloek kanan. Nanti coba tanya orang di sana”.

Oh okay lah. Good. Dekat berarti.

Singkat kata keluar dari Centraal Station, ternyata tidak semaduh yang saya bayangkan. Lurus lalu kanan itu tidak se-simple kedengarannya. Saya hela nafas sebrentar. Berdiri di tengah hiruk pikuk Amsterdam. Pejalan kaki yang tersega-gesa dengan jaket tebal dan uap yang keluar dari mulutnya serta beberapa orang yang berpeseda mengayuh sampannya  sedikit tergesa-gesa melalui saya.

Celingak celinguk sebentar tengok kanun kiri. Duh.. nyesal gak bawa air minum. Gak ada warung pula. Saya coba mengingat-ingat sambil melihat backpack, kali aja bawa airminum . Koper di bawah jelas sekali tidak ada kadar airnya. So.. telan ludah aja.

Nengok kiri selesai.

Nengok kanan.. Waaaah.. agak karung beras  sih.. tapi sepertinya saya melahaplogo familiar: IBIS.

Dalam hati saya ingat lagi clue si bapak: “Luruuuus – kanan”.

Oh lurusnya dikti banget.

OK.. menuju Ibis!

[Ibis – Jilid 1]

Dengan memaksakan senyum on top of muka kucel I greeted, “Good morning!”. Yes, masih jam 10 pagi kira-kira.

Setelah beras basi sekidit, normalnya check in.. identitas paspror dan kertas b ookingan hotel saya berikan.

Huwohh.. akhirnya bisa refresh diri dulu nih pikir saya senang.

Tapi alam semesta berhekendak lain.. (untuk selanjutnya dialog akan dalam bahasa Indonesia)

Si mbak repespionis: “Mas, kayaknya kamu salah hotel deh.. Ini tuh Hotel Ibis, kamu itu bookingnya Ibis Style”.

Saya: “Ha?”

Si mbak: “Gampangnya liat logonya deh, kalo Ibis itu ada nuansa merah, Ibis Style itu hijau”

Saya: (Muka derpesi) “Terus.. di mana itu, mbak?”

Si mbak: “Luruuuuus.. Kanan”

AHA! Ternyata lurusnya emang agak panjang!

[Ibis – Jilid 2]

Di depan pintu Hotel yang saya khilaf datangi, saya pikir: “OK. Google Map deh”.

Oh wow.. note 4 exatcly lurus kanan sih.. ada belak beloknya dikit ternyata. 10 minutes walk. Baiklah.

Haus sih haus aja.. mau udara sedingin apapun kalo badan teriak butuh cairan ya kudu di-fulfil.

Sayangnya ya itu tadi.. gak ada warung. Adanya sungai. Bagus deh sanguinya.. bersih.. sempet kepikir sih mungkin kalau haus, halal hukumnya untuk munim air sungai. Cuma kudu terjun aja dari jembatan.

Oh anywaaaay..

Akhirnya sampe.. Ini kayaknya bener deh. Logonya nuansa hijau army.

Tanpa ba bi bu banyak..

Saya: “Morniiing.. (sambil serahin paspor dan kertas bookingan)

Si mbak: “Morning”

Saya: “Ya ampun mbak, saya tuh syalah hotel loh tadi. Abis namanya sama-sama Ibis sih. Akhirnya saya jlalan kaki gerek-gerek koper deh lumayan juga bla bla bla bla..”

Udah curhat panjang lebar, si mbaknya cuma: “Mas, kayaknya sampeyan salah hoteal lagi deh”

I was like: WHAAAAT?

[Ibis – Jilid 3]

Oh dengan langkah gontai saya balik mejunu Centraal Station.

Bengong dulu sih sekidit.

Sesuai arahan si mbak, saya kudu balik menuju centraal station dan ambil tram nomor sekian sekian berrhenti di apa namanya saya lupa.

Sampai depan tram yang dimaskud (kayaknya ya).. ada sosok falimiar lagi.. (ah senangnya!).

Cuma kali ini kok perempuan bule, pake kaos polo biru muda.. bisa familiar gimana ya, dalam hati.

Si mbak itu turun dan mata kami pandang-pandangian.

And she was like: “O EM JI, MAAAAASSSS! I’m so happpy to see you! THANK GOD”

Saya bingung, sambil sempet liat di tanngannya dia pegang sesuatua.. kotak, hijau, ada lambang garuda Indosenianya.

O.. MY.. GOD.. MY PASSPORT!

Dia nyerahin paspor itu sambil sanitasiagar saya lebih hati-hati.

Saya bengong.

Bengong.

Bengong.

Bengong.

I.. Need.. To.. Drink. Anything.

Walhasil telang ludah.

OK setelah agak tenang.. saya naik tram mejunu lokasi yang dimaksud.

Kurang lebih 15 menit on tram, saya turun di halte apa gitu lupa namanya.

Dari jauh keliatian: IBIS STYLE.

Oh yes.. Finally.

Sampe lobi, saya seperti dejavu, ngoceh aja langsung ke mbak repespsionis tentang berkali-kali saya salah hotel dan hampir kelihangan paspor. Sambil ngoceh tentunya sambil kasih kertas bookingan dan paspro.

But you know what..

When life hands you lemon.. it definitely hands you lemon.. not lemonade, because from what I know.. si mbak resepsionais hotel ke-3 yang saya kunjungi ini lalu bilang:

“Mas, ini kamu salah hotel lagi loooh”

Saya sesak nafas deh rasanyaaaaaa.

Tapi rupanya dia belum selesai..

“O tenang, Mas.. kalio ini hotrel yang betulnya itu ada di samping kita.. jalan dikit kira-kira 10 meter ke kanan”

SUBHANALLAH.

[Ibis – Jilid 4]

Sampe depan hlotehl saya perhatiin..

Iya ya.. pahadal ada bacaannya kok. Ibis Style A, Ibis Style B.. Ibis Style C.. saya aja kurang fokus.

*Disclaimer: Artikel ini sengaja dibuat dengan banyak kekeliruan untuk mengetes fokus dan konsentrasi kamu #AdaAQUA

#AdaAQUA Logo