Obrolan Singkat

IMG_7799[1] IMG_7804[1] IMG_7826[1]

“Anak-anak anjingnya lucu amat ya, Bu. Tapi kasihan Ibunya kurus amat,” saya iseng komen.

“Yaaa kalo orang mah anak ada 7, pembantunya minimal 1. Tetep gemuk deh,” responnya santai.

LOL BIJAK

IMG_7818[1]

Advertisements

Bangun Jam 3 Pagi Itu.. Kesiangan

IMG_7407

“Ibu masak sendiri?”

“Iya.. paling ketupatnya aja yang beli di pasar”

“Jam 3 pagi kali ya Bu udah bangun?”

“Wah kalo bangun jam 3 pagi mah kesiangan. Mending gak jualan sekalian”

(Mata saya terbelalak sebelah – sebelahnya lagi lirik hape untuk ambil foto candid si ibu)

“Terus jam berapa, Bu?”

“Jam 1 harus udah bangun,” jawab Ibu sambil usir lalat.

Suka heran sama lalat. Gak sampah, gak bangkai, gak makanan.. semua dihajar. Plus.. Konon suka ganggu orang pacaran pula.

“Lah terus Ibu tidur jam berapa?

“Ya abis Isya Ibu udah tidur”

Ya ampun. Ternyata ada ya ibu-ibu yang gak nonton Ganteng-Ganteng Serigala. Ini saya saksikan dengan mata kepala sendiri.

“Jadi Ibu ke pasar dulu jam 1?”

“Enggak sih.. Bapak biasanya yang ke pasar ditemenin anak jam 1 pagi”

“Oo.. *manggut manggut*.. anak Ibu ada berapa?” saya kepo

“Ada 3. Alhamdulillah yang 1 baru lulus, 1 lagi kuliah, si bontot sekolah. Ibu udah 7 taun jualan ini. Dulu sempet bingung gimana biayain anak-anak.. Alhamdulillah semuanya bisa sekolah. Ada jalannya”

“Wah syukurlah..”

Yaa Tuhan itu kan kasih rejeki udah ada buat tiap orang, tapi kalo kita duduk dan diam di rumah aja ya gak turun juga” lanjut si Ibu – bijak, “Alhamdulillah nih kalo buat ongkos anak sekolah sih nutup aja”.

IMG_7408

Beberapa kali obrolan santai kami kudu di-pause dulu karena ada pembeli. Semuanya naik motor. Bungkus makanan, bayar, cabut. Tinggal saya dan Ibu berduaan lagi di pinggir jalan.

“Suka khawatir gak sih Bu ada orang jahat? namanya juga jualan di pinggir jalan,” saya pingin tau.

Mikir 3 detik, Ibu buka suara, “Oh pernah ada perempuan.. cakep.. dandanannya rapi.. Dia tiba-tiba duduk di tempat mas duduk sekarang.. dia minta kembalian. Katanya: Ibu kemarin belum kasih kembalian ke dia. Padahal Ibu inget banget kemarin gak ada yang bayar pake 100 ribuan, kalo 50 ribuan sih banyak”

“O dia minta kembaliannya? Ibu kasih?”

“Ya iya. Dia bilang dia belanja 20 ribu”

“Kenapa dikasih, Bu?”

“Ibu sih tanya, kenapa gak minta kembalian kemarin aja? Kenapa baru sekarang? Tapi ya Ibu kasih juga. Takutnya Ibu yang lupa.. Tar dosa lagi. Akhirnya Ibu kasih.. kalo ternyata dia yang bohong ya urusan dia sama Tuhan deh”

Saya manggut-manggut. Orang kadang suka terlampau kreatif di jalan yang salah ya pikir saya.

“Pernah juga ada Bank keliling”

“Apa Bu? Bank keliling? Rentenir maksudnya?”

“Iya.. 3 hari berturut-turut datengin Ibu. Nawarin pinjaman 1 juta tapi dikasihnya 900 ribu. Ya Ibu gak mau lah.. jualan begini doang sih buat apa pinjem ke Bank keliling 1 juta. Akhirnya Ibu bilang kalo 50 juta mau dah.. tar selama 3 taun Ibu bayar sebulannya 2 juta. E besoknya dia gak dateng lagi”

Saya lirik hape. Sudah jam setengah 8.

“Berapa Bu?”

“7000”

“Boleh utang, Bu?”

Si Ibu ketawa.

Saya bayar.

“Makasih ya, Bu. Saya jalan dulu”

Kemudian saya tidak lupa mengucap syukur dalam hati.

Yuk.. Ketemuan di Money Brunch

“Hah? Bicara tentang finansial? Tapi saya ndak punya kapasitas di situ, Mbak. Saya awam”

“Justru itu, Mas.. positioning-nya memang sebagai orang awam”

“O ya kalo itu saya orang yang tepat” (ketawa miris dalam hati)

Kira-kira begitu awal obrolan saya di whatsapp dengan Mbak Dini dari Janus Financial.

Selang beberapa hari kemudian kami ketemuan untuk bicara lebih detail.

Singkatnya saya diminta untuk partisipasi dalam acara rutin CSR Janus Financial. Kali ini temanya seputar pasar modal. Interesting. I wanted to know more.

Saat itu saya dikelilingi teman-teman dari Janus Financial.. 3 lawan 1. Saya nyerah (dan menyerahkan diri) ketika saya lempar pertanyaan begini:

“Saya ingat jaman krisis moneter dulu, hal yang membuat Indonesia masih bertahan justru UKM-nya. Bisnis rakyat kecilnya. Jadi.. kenapa repot-repot ingin sosialisasi Pasar Modal, Mas?” tanya saya ke Mas Aakar – founder Janus Financial.

“Justru itu.. sekarang ini 60% dari investor untuk pasar modal di Indonesia adalah investor asing. Jadi ketika terjadi apa-apa, mereka memutuskan cabut.. pondasi kita goyah,” jawabnya cool.

Saya mengangguk. Logika saya kesentuh tepat di tengah.

Sederhananya.. program Corporate Social Responsibility yang dilakukan Janus Financial kali ini untuk sharing, ngobrol, diskusi banyak mengenai pasar modal di Indonesia dan bagaimana orang-orang awam (dan yang belum kaya raya) seperti saya ini bisa ikut kontribusi di dalamnya. Tidak penting apakah saya akan terjun ke pasar modal nantinya, target kali ini adalah memuaskan rasa ingin tahu. Setidaknya kalo sudah lebih paham, kita baru bisa memutuskan langkah selanjutnya kan ya?

Sedikit mengenai Janus Financial bisa dilihat di http://www.janusfinancial.co.id.

Kalo saya baca-baca dan dengar ceritanya.. Janus Financial ini adalah konsultan keuangan independen yang berdiri sejak Juli 2013 dengan fokus awal industri perencana keuangan. Menariknya, Janus Financial memiliki CSR program The Wake Up Call sebagai program edukasi dengan berbagai tema berbeda di setiap event-nya. Berbagai komunitas dilibatkan dalam acara yang dilakukan secara rutin ini. Mulai dari komunitas fashion, traveler, sampai hijabers. Topik yang dibicarakan pun selalu berbeda-beda tapi dengan benang merah yang sama: finansial.

So kali ini saya terlibat di program Money Brunch yang akan diadakan pada hari sabtu, 3 Oktober 2015.

Mengundang teman-teman sekalian untuk ngobrol santai mengenai apa sih itu pasar modal, apa sih pentingnya buat negara, apa sih manfaatnya buat kita, bagaimana sih cara kontribusinya.. Biar tambah seru, katanya akan ada lomba blogging, livetweet dan creative instagram shot juga. Hadiahnya ini yang agak nyeleneh: akun saham. I say it’s interesting.

Sampe ketemu di sana ya.. Untuk reservasi bisa liat di sini:

Iklan MB5Undangan MB5